Archive for the ‘Sejarah Marga’ Category

Sumber: Mailing List Batak Gaul-Yahoogroups

pandanganOleh: Diana SIHOTANG

HORAS,

Di dalam Keluarga Marga SIMANJUNTAK-sak portibi on (Horbo Pudi khususnya, awassss…jangan ambek tu hamu SIMANJUNTAK yg bukan ku maksud yaaa…) selalu mengatakan mar-PARIBAN sama boru HOTANG…

emang iyalahhhh…sejarah sudah nempel tuh di kepala ku…hmmm…pizzzz!?

Dang i PARIBAN nami, yang selalu bilang dan menuliskan sak portibi? ups!?

Mekkel muse jo hamu sude pariban hu, SIMANJUNTAK

heheheeee…

(more…)

Advertisements

Sumber: Mailing List Batak Gaul-Yahoogroups

pandangan

Oleh: Diana SIHOTANG

HORAS,

Ada seorang laki-laki yang mengaku dirinya Orang Batak, dengan label merk Marga BARUTO (ternyata penulisan yang benar adalah Marga BERUTU).

Laki-laki tersebut sedang curi-curi pandang, intip-intip BORU NI RAJA i alias salah satu Boru Batak.

(more…)

http://simanjuntak.or.id/2008/05/31/pola-unik-hubungan-simanjuntak-sihotang/

Pola Unik Hubungan Simanjuntak – Sihotang

Simanjuntak, sebagai sub-etnik Batak, punya keunikan yang salah satunya terletak pada penamaan komunitasnya. Pengakuan bersama terhadap identifikasi diri sebagai Simanjuntak Sitolu Sada Ina, yang terdiri dari MARDAUP, SITOMBUK dan HUTABULU, tentu bukan tanpa alasan.

Pemaknan dan kecintaan terhadap seorang INA (IBU), bagi Simanjuntak yang juga dikenal dengan sebutan PAR HORBO PUDI, menjadi perekat antara Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu, yang melanggengkan kekerabatan dalam ikatan semarga dengan berbagai konsekuensinya.

Begitu pentingnya makna dan ikatan emosional antara anak (keturunan) dengan SOBOSIHON br. SIHOTANG, sang IBU Sejarahnya, hingga membuat tugu peringatan bagi Sang Ibu dengan ketiga anak-anaknya (Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu) yang terletak di Hutabulu Balige.

Jika dibandingkan dengan kebiasaan marga-marga lain dalam pembuatan tugu, yang lebih menonjolkan SANG AYAH, sebagai penganut patri lineal, Simanjuntak Sitolu Sada Ina, berani menunjukkan perbedaan.

Selain dalam hal pembuatan tugu yang menghadirkan sosok Ibunya yang berasal dari hula-hula marga Sihotang, sebagai figur sentral, Simanjuntak Sitolu Sada Ina juga memelihara dengan sangat kuat pola hubungannya dengan MARGA SIHOTANG, hingga menyebutnya sebagai Bona ni Ari (Pangkal/awal dari Hari) atau Mata ni Ari Binsar (Matahari Terbit).

Hampir merata diketahui ketika Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, bertemu dengan Marga Sihotang, tanpa komando akan menyapa dengan kata “TULANG”, dan sebaliknya Marga Sihotang akan menyapa “AMANG BORU atau NAMBORU”. Jika, bertemu dengan Boru Sihotang, maka Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Laki-laki) akan menyebutnya sebagai “PARIBAN”, sedangkan yang perempuan akan memanggil “EDA, INANG, atau OPPUNG”.

Berdasarkan pola hubungan antara Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu) dengan Marga Sihotang yang tergolong unik ini, maka hal yang paling dihindari adalah terjadinya Perkawinan antara Boru Simanjuntak dengan Marga Sihotang. Dan, sebaliknya mendorong/mempermudah proses adat perkawinan antara Marga Simanjuntak (Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu) dengan Boru Sihotang. Hal ini diyakini sebagai upaya “mengulangi success story” yang pernah ditorehkan SOBOSIHON BORU SIHOTANG, merawat, membesarkan dan mendoakan ketiga anaknya semasa hidupnya kira-kira 400 tahun yang lalu.

Menurut anda, apakah pola hubungan seperti ini masih relevan dan dapat dipertahankan di masa mendatang???

[email dikirim oleh Manutur Sihotang kepada Admin Web]

Satu anak perempuan sian Sigodang Ulu menikah dengan Marga Manurung, bukan Marga Simanjuntak.

Boru Sihotang yang kawin tu Marga Simanjuntak adalah boru dari salah satu anak ni Sigodang Ulu.

Mengapa saya sebut BORU SIHABOLONAN ni SI GODANG ULU SIHOTANG adalah Marga MANURUNG, sebab anak satu-satunya Sigodang Ulu kawin tu marga Manurung, dan menjadi SINONDUK HELA. Huta dan tanah ada di Sihotang, sementara untuk SIMANJUNTAK, tanah yang diberikan baru setelah Pesta TUGU SI GODANG ULU tahun 1972.
DOLOK PANATAPAN adalah tanah yang diberikan sebagai ULOS SO OLO BURUK (istilah adat batak).

Boru Sihotang (yang bernama  Siboru Sobosihon) yang kawin dengan Marga Simanjuntak (Raja Marsundung) adalah boru dari salah satu dari lima tubuni Ompung boru Tamba (nggak tau persis, antara Sorganimusu dan Sitorbandolok), namun Siboru Sobosihon sangat disayangi semua ibotonya (tujuh marga keturunan Sigodang Ulu), itulah sebabnya Siboru Sobosihon selalu berpesan pada keturunannya supaya hati-hati dengan Tulangnya Marga Sihotang.

Siboru Sobosihon adalah istri kedua dari Raja Marsundung mempunyai kisah yang unik dalam keluarganya, apalagi terhadap keturunan Raja Marsundung yang lahir dari istri pertamanya yaitu Simanjuntak Parsuratan. Marga Sihotang sangat berperan menjaga keselamatan Siboru Sobosihon setelah tragedi yang menyakitkan Siboru Sobosihon dimana satu buah dadanya dipotong oleh Parsuratan, dengan tujuan agar ketiga keturunan dari Boru Sobosihon tidak bisa minum asi.

Marga Sihotang yang sangat sayang terhadap borunya, dan dahulu semua penatua-penatua Marga Sihotang sepakat juga untuk menjadikan Simanjuntak adalah Boru SIHABOLONAN dari Sigodang Ulu.

Itulah yang saya tahu, Salam pencerahan.

Regards,
M@nutur Sihotang / Kalimantan

http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/66

Anak dari Naisuanon/Tuan Sorba Dibanua ada 4 yaitu :
1. Sibagot ni Pohan (Tuan Sihubil, Tuan Dibangarna, Tuan Somanimbil dan Sonak Malela).
2. Sipaet Tua (Pangulu Ponggok, Partano Nai Borngin dan Pardungdang/Ompu Raja Laguboti).
3. Silahi Sabungan.
4. Si Raja Oloan.

Si Raja Oloan memiliki 2 istri yaitu : Nai Jabaon boru Limbong dan boru Pasaribu.

Dari istri pertama (Nai Jabaon br. Limbong) ini lahirlah dua anak bernama Si Ganjang Ulu (Naibaho) dan Si Godang Ulu (Sihotang). Kedua anak Si Raja Oloan ini memiliki kelainan dikepalanya. Naibaho memiliki kepala yang panjang makanya disebut Si Ganjang Ulu dan Sihotang memiliki kepala yang besar makanya disebut Si Godang Ulu.

Pada saat keduanya sudah besar/dewasa, malu lah orang tuanya akan kelainan kedua anaknya ini. Maka jika ada pesta yang diadakan di rumahnya, disembunyikanlah Si Godang Ulu ke hutan rotan, itulah maka sampai sekarang Si Godang Ulu disebut juga Sihotang yang berarti Rotan (tanaman Rotan). Sedangkan anak Si Raja Oloan dari istri ke dua (boru Pasaribu) adalah Bangkara, Sinambela, Sihite dan Simanullang.

Berikut urutan Marga-Marga Si Raja Oloan dari yang sulung sampai bungsu:
1. NAIBAHO/Si Ganjang Ulu
Marga Naibaho sendiri ada 5 bagian yaitu : Naibaho Siahaan, Naibaho Sitakkarain, Naibaho Sidauruk, Naibaho Huta Parik, dan Naibaho Siagian.

Sedangkan Marga Sitindaon adalah hasil perkawinan (kecelakaan) antara sesama Naibaho Siahaan sendiri.

Ada beberapa Marga Naibaho yang merantau ke daerah Karo dan Dairi/Pakpak antara lain: Porhas Japjap, Sitolpak Gading: Ujung, Angkat, Bintang, Gaja Diri, Gaja Manik, Sikamo (Sinamo), Capa (Sapa).

2. SIHOTANG/Si Godang Ulu
Marga Sihotang sendiri ada 7 bagian yaitu : Sihotang Sidardabuan (di Sidikalang disebut Sihotang Manik/Sumbul Parongil), Sihotang Sorganimusu, Sihotang Sitorbandolok (di Karo disebut Sitepu, Sinubulan, Batu Nangkar, Bukit), Sihotang Sirandos, Sihotang Simarsoit, Sihotang Raja Tunggal Hasugian (Di Karo disebut Sinulingga, Kaban, Surabakti, Kacaribu), dan Sihotang Lumban Batu (Di Karo disebut Sinuraya, Sinuaji).

3. BANGKARA
Marga Bangkara sendiri ada 3 bagian yaitu: Bangkara Dolok, Bangkara Tonga, dan Bangkara Toruan.

4. SINAMBELA
Marga Sinambela sendiri ada 3 bagian yaitu: Sinambela Raja Pareme, Sinambela Tuan Nabolas, dan Sinambela Bonani Onan.

5. SIHITE
Marga Sihite sendiri ada 3 bagian yaitu: Sihite Pande Raja, Sihite Siguru Tohuk, dan Sihite Siguru Leang.

Marga Siteang sebenarnya juga masuk Sihite tapi saya tak tahu asal usulnya darimana.

6. SIMANULLANG
Marga Simanullang sendiri ada 3 bagian yaitu: Simanullang Lumban Nahukkup, Simanullang Lumban Ri, dan Simanullang Lumban Nalom.

dipadenggan/ditambai angka dongan ma…..mauliate,

limbong