Sumber: Mailing List Batak Gaul-Yahoogroups

Kutipan email: Esra NABABAN

(Bisnis Indonesia tanggal 12 nopember 2009) Ulos diambang punah, Pemerintah Pusat diminta perhatian Cetak JAKARTA: Kain tenun khas etnis Batak, Sumatra Utara, Ulos terancam punah seiring menyusutnya industri tenun tradisional dan minimnya perhatiannya pemerintah pusat yang cenderung fokus pada kebudayaan etnis Jawa.

Bisnis mencatat saat ini, industri tenun Ulos berpusat di perkampungan Lumban Suhi Suhi, 6 kilometer dari ibu kota Kabupaten Samosir Pangunguran, Provinsi Sumatra Utara.

Sejak tenun Ulos di tanah Karo atau yang biasa disebut Uis hilang, hanya industri tenun ulos di pesisir Danau Toba saja yang hingga saat ini masih mampu bertahan.

Sementara itu, perhatian pemerintah pusat cenderung fokus pada produk budaya etnis Jawa ke ajang internasional. Sebut saja perjuangan pemerintah agar dunia mengakui keris dan wayang kulit sebagai warisan dunia.

Pemerintah Indonesia bahkan menyerukan gerakan penggunaan batik secara nasional setelah badan WHO dan UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya asli Indonesia pada 30 September 2009.

Pengakuan itu seakan membuka mata para pelaku budaya suku lain yang tersebar di 32 provinsi. Berlomba-lomba mereka mengupayakan pengakuan warisan budaya sama halnya dengan batik.

“Sudah sejak lama budaya tenun Uis di tanah Karo ini hilang, karena geografis Karo yang sangat subur membuat masyarakatnya lebih memilih bercocok tanam daripada menenun,” ujar Sahat Tambun, salah satu penggiat Uis Karo dari Kabanjahe.

Menurut Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia karya M. Junus Melalatoa, Sumatra Utara memiliki 15 suku bangsa, yaitu Angkola, Asahan, Batak, Karo, Langkat, Mandailing, Melayu, Nias, Pakpak, Pesisir Natal, Siladang, Simalungun, Toba, dan Ulu Muara Sipongi.

Ulos masuk ke tanah Batak pada abad ke-14 sejalan dengan masuknya alat tenun tangan dari India. Di tanah Karo, budaya tenun perlahan-lahan mulai hilang dan terkontaminasi dengan arus budaya Melayu yang membuat motif Uis Karo mengalami inkulturasi budaya dengan kain Songket.

Alasannya, kondisi tanah Karo relatif subur dibandingkan daerah lain. Sebagian besar penduduknya memilih berprofesi sebagai petani kopi, jeruk, dan aneka jenis sayuran. Bagi mereka, bertani memberi nilai ekonomi relatif tinggi dibandingkan dengan menenun.

“Sudah sejak lama orang Karo banyak mendatangkan kain tenun dari Samosir yang sebagian warga masyarakatnya berprofesi sebagai penenun, sementara budaya menenun di Karo sudah lama hilang,” ujar Sahat yang sejak 17 tahun terakhir menggalakkan kembali tenun Uis khas Karo dengan mendirikan sentra kerajinan Uis Trias Tambun.

Agar layak jadi komoditas wisata budaya, industri tenun Ulos yang ada di Samosir ini kemasannya dipercantik supaya layak jual dan jadi salah satu tujuan wisata budaya kreatif.

“Kami tengah gencar menyosialisasikan profil Ulos dengan menjadikan kain ini sebagai pakaian resmi sehari-hari oleh para pejabat Pemda Sumut dan jajarannya,”, ujar Nurlisa Ginting, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumut.

Aplikasi Bahan Dasar

Untuk tidak menghilangkan kearifan lokal dengan fungsi dan motif Ulos, penggunaan Ulos dipertahankan fungsinya, meski ada arahan menggunakan bahan baku yang lebih nyaman.

Cara yang kini digalakkan pemerintah daerah setempat adalah mengadakan pameran di luar Sumut dan gencar mengadakan beragam pelatihan tenun Ulos serta perkenalan unsur kesejarahan kepada generasi muda setempat.

Pemda berharap dapat menjalin kerja sama dengan pihak ketiga yang tertarik dengan kelestarian tenun Ulos.

Menurut penggiat kain tenun Ulos sekaligus perancang busana Midian Sernat Sihombing Hutasoi kini tengah merancang pendirian Ulos Center, ruang pamer dan aktivitas industri tenun Ulos di kampung sang istri, Lumban Suhi Suhi.

Midian mencatat dalam sejarah Batak, ada 12 jenis motif Ulos yang ada di komunitas tenun Samosir, sesuai dengan fungsi dan warna, yaitu Ulos Jugia, Ragi Hidup, Ragi Hotang, Sadum, Runjat, Sibolang, Suri Suri Ganjang, Mangiring, Bintang Maratur, Sitoluntuho-bolean, Jungkit, dan Lobu Lobu.

Selain mempertahankan motifnya, Merdi hadir dengan inovasi baru. Jika ulos lokal berbahan dasar benang kapas sehingga membuat kain yang kaku dan kasar, Merdi hadir dengan bahan dasar rami, linen, dan sutra kupu-kupu liar sehingga kain lebih sejuk dan bisa dikenakan sehari-hari.

Hasilnya, kain yang Ulos yang biasa dikenal dengan tiga warna dasar yaitu merah, putih, dan hitam, dikreasikan Merdi dengan warna lebih kaya serta bisa disesuaikan dengan selera pemakai.

“Saya hanya segelintir orang yang ingin supaya Ulos ini bisa tetap dipertahankan dan bisa diakui bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia,” ujar Merdi.

Selain mempertahankan keberadaan Ulos, Merdi juga berharap Ulos juga mendapat perhatian layaknya batik milik masyarakat Jawa dan Songket yang khas Palembang.

Untuk langkah ke depan, Merdi menggandeng Indonesia Heritage Society dan Perhimpunan Pecinta Kain Adati Indonesia (Wastaprema).

(wulandari@bisnis.xxx)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s