Sumber: Pakkat News dot wordpress dot com

Money2Dikirim Oleh: Latteung <gaolhendry@xxx>

Frans melempar pandang, jauh ke depan sana, memandang Sungai Sigeaon yang berkelok seperti ular, membelah jantung kota Tarutung. Sesekali, angin kencang dari lembah Silindung bertiup, memainkan rambutnya yang sedikit gondrong. Gerimis yang sedari tadi menerpa wajahnya tak dihiraukannya. Seolah Frans sedang menikmati rintik hujan yang menerpa tubuhnya. Dia melirik kebelakang dan dilihatnya Sinta masih berdoa, kyusuk!. Kembali dia mengalihkan pandanganya, menikmati alam bukti Siatas Barita. Tanah batak yang indah dan subur, gumannya di dalam hatinya. Jauh di lembah sana, padi menguning di sisi kiri-kanan sungai Sigeaon, bergerak menari mengikuti arah angin. Pepohonan yang rindang menghijau memagari punggung gunung yang merupakan gugusan Bukit Barisan. Dia menengadah ke atas, menatap langit.

Awan hitam perlahan terlihat bergerak menuju perbukitan Siatas Barita. Sesekali terdengar bunyi guruh dari jejauhan, membuyarkan lamunanya. Sungguh indah pemandangan dari puncak bukit ini dan tak salah kalau tempat ini banyak dikunjungi wisata. Sejauh mata memandang, tanah tapanuli menghijau.

Laki-laki berkalung salib dari bahan perak putih itu mencoba membandingkan kampung halamanya, sebuah desa yang miskin dan gersang di sebuah pulau kecil di Flores. Sungguh jauh berbeda. Masa kecilnya dihabiskan di sebuah lereng perbukitan yang tandus. Keluarganya, sebuah keluarga sederhana bila enggan disebut miskin. Hidup dari bertani dengan mengandalkan kebaikan alam. Minimnya curah hujan membuat tanah di desanya kering.

Hmmm…dia menghela napas.

Dibelakangnya berdiri sebuah salib raksasa, Salib Kasih yang berdiri dengan kokohnya. Kini, Bukit Siatas Barita dengan Salibkasihnya menjadi ikon Tapanuli. Kalau dahulu Danau Toba menjadi satu-satunya tujuan wisata, kini bukit Siatas Barita menjadi tempat wisata rohani. Selain untuk tempat wisata, Salib Kasih merupakan monumen peringatan kepada Nommensen, sang Rasul Batak yang terkenal itu. Berkat pelayananya yang luar biasa, maka orang batak dari animisme perlahan berubah menjadi kristen. Kecintaan Nomensen kepada tanah batak dan penduduk-penduduknya, dibuktikan dengan pelayanan seumur hidupnya, dan hingga akhir hayatnya, beliau juga di makamkan di tanah batak ini. Dulu, rasul Batak ini memulai pelayananya dari bukit ini. Moderenisasi orang batak dimulia sejak pelayanan missionaris asal Jerman ini.

Perlahan, hujan mulai turun. Bergegas, dengan berlari kecil dia masuk kedalam gereja. Dilihatnya Sinta sudah selesai berdoa. Dia menghampirinya, dan melemparkan senyum. Bersama jemaat lain, mereka bercengkerama dalam gereja hingga hujan berhenti.

“Kusyuk sekali berdoanya?”

“Iya…setiap saya pulang kampung, aku pasti menyempatkan diri ke sini, walau jauh dari Medan tapi dengan berdoa disini rasanya semua beban permasalahan yang kuhadapi hilang sirna, kamu nggak berdoa.”

Frans hanya mengangguk kecil dan melempar senyum pada Sinta.

“Termasuk permasalahan yang kita hadapi” ujar Frans datar.

Sinta hanya terdiam, membisu pandanganya hampa keluar jendela gereja diatas bukit itu

“Kita pulang? mumpung hujan sudah mulai reda”

“Yup” ujar Sinta pendek. Secepatnya, keduanya bergandengan menuju parkiran dengan menuruni anak tangga yang tertata rapi.

Mereka terbuai dalam bisu. Sinta melangkahkan kakinya, dia tak memberikan respon pada ucapan Frans tadi. Hanyut dalam pikiranya, sejenak memandang Frans yang sudah siap dibelakang kemudi. Menatap laki-laki hitam manis disampingnya. Frans tersenyum. Tulus. Sinta tahu apa yang ada dipikirannya. Hanya anggukan kecil yang dilemparkan Frans. Dian mengecup pipi Sinta dengan penuh cinta.

“Makanya aku membawamu berwisata ke sini, sekalian untuk berdoa. Aku juga ingin memperkenalkan kampung halamanku kepadamu. Dulu, bapak lahir dan besar disini. Sebelum bapak pindah ke Medan, bapak dan semua keluarga besar bapak tinggal di Kota Tarutung ini. Inilah kampung halaman bapak, kampung halaman kami. Dimanapun orang batak berada, selalu rindu akan kampung halamanya.”

“Disini banyak tugu” ujar Frans mengalihkan pembicaraan, sembari menunjuk beberapa tugu dari berbagai bentuk dan warna serta corak.

“Itulah orang batak, kalau dipikir, tak adil rasanya. Setelah meninggal, maka mayatnya dikuburkan disini, padahal selama hidupnya tak pernah menginjakkan kaki di bumi tapanuli ini, ini kampung orang mati” ujar Sinta, sinis, lalu tangannya menutup kaca mobil. Angin kencang berhembus.

“Termasuk kamu??”

“Iya”

“Hmmm..tak adil”.

Mereka berdua kembali membisu lagi hingga memasuki Kota Tarutung. Sinta tahu persis siapa laki-laki disampingnya itu. Beberapa tahun yang lalu ketika masih kuliah di Jogja, mereka bertemu dalam satu acara retreat. Bilur-bilur cinta mulai menghinggapi kedua insan berbeda jenis ini. Sama-sama aktif dikegiatan kampus hingga kegiatan gerejawi dimana mereka berjemaat. Hitungan tujuh tahun bukan waktu yang sebentar buat keduanya.

Awalnya, amanSinta, ayahnya, tak menyetujui hubungan ini. Bahkan jelas-jelas ditentangnya dengan menjodohkan Sinta dengan paribannya. Dia ingin menantu pertamanya harus orang batak. Banyak argumen disampaikan dan ternyata tak mampu memupus rasa cintanya pada Frans. Akhirnya, hati amanSinta luluh juga dan mau menerima Frans sebagai calon menantunya.

Kedatangan Frans ke Medan adalah untuk menemui amanSinta sekaligus menunjukkan niat, komitmen dan keseriusan mereka untuk segera menikah.

* * *

Money10Suara amanSinta sedikit serak bagaikan petir yang menggetarkan jantung Frans. Suara amanSinta sedikit meciutkan nyalinya. Tak terkecuali Sinta, yang sedari tadi hanya memainkan ujung bajunya. Sesekali mereka berpandangan. Memang beberapa hari terakhir ini, amanSinta jarang berkomunikasi dengan Sinta. Semenjak Sinta menolak permintaannya untuk menikah dengan paribanya. Belum lagi ketika naiSinta memberitahukan kalau Frans mau datang berkunjung. AmanSinta seperti sikap sebelumnya, belum bisa menerima pilihan Sinta.

“Sejauh mana hubungan kalian” ujar amanSinta, lalu melirik Sinta.

“Seperti yang pernah aku utarakan ke Omak, dua minggu lalu, Pa. Untuk itu Frans datang dari Jakarta” suara Sinta hampir tak terdengar.

“Iya Tulang, Sinta sudah bicara mengenai rencana kami pada Nantulang” Frans menimpali.

Panggilan Tulang dan Nantulang resmi dia sampaikan pada saat wisuda mereka, beberapa tahun lalu. Sinta memang memberitahukan beberapa partuturon orang btak kepada Frans. Dan bagi Frans sendiri ini adalah sebuah kehormatan, akan menjadi anggota keluarga batak. Frans sediri sudah banyak belajar tentang batak dari teman-temanya di Jakarta.

“Ya sudah, kalau begitu, beritahu keluargamu, dan pestanya harus di sini, di Medan ini. Sinta adalah putri pertama kami, kau tahu itu dan dia cucu panggoaran. Oppungnya yang di Tarutung harus ikut menyaksikan pernikahan kalian, karena dia cucunya paling besar. Jadi kalian sudah bisa menyusun rencana “ Ujar amanSinta sedikit melunak.

Betapa girangnya Frans, mereka berpandangan. Ternyata apa yang ditakutkan Frans tidak terjadi. AmanSinta akhirnya memberikan ridho kepada mereka. Pada awalnya Frans mencoba memberikan pendapatnya, kalau bisa pernikahan mwereka berbentuk resepsi biasa saja dan dilaksanakan di Jakarta.

“Tulang, bisakah pestanya resepsi saja? dan biar rangtuaku tidak kejauhan dari Flores kita bikin di Jakarta saja” ucap Frans pelan.

“Tidak bisa, adatnya harus disini dan jadi adat na-gok, biar ini menjadi urusan kami”

“Tapi, Tulang…biayanya pasti tidak sedikit…”

“Iya…coba pikirkan lagi sebelum saya mengubah keputusanku” ungkap amanSinta tegas.

Frans diam.

Memang, beberapa hari yang lalu, sebelum kedatangan Frans, NaiSinta membicarakan masalah biaya pesta kepada amanSinta. “Bagaimanapun juga, kita harus mengundang seluruh famili dan rekan-rekan kita, juga teman-teman satu gereja. Ingat, sinta adalah putri pertama kita. Apa kata orang nanti kalau pesta kita tidak meriah. Mau ditaruh dimana muka ini” ujar AmanSinta.

“Pa, tau sendiri, calon menantu kita bukan orang batak, mana mungkin mau memberikan sinamot yang besar, sementara kita tak punya uang. Kemaren saja uang kontarakn si Tolopan, terpaksa kucicil tiga kali. Lalu Siappudan dua bulan lagi masuk ke perguruan tinggi. Gimana kalau di rumah inang saja di Tarutung kita bikin pestanya…toh famili kita lebih banyak disana” jawab naiSinta memberikan argument.

“Bisa-bisa dikucilkan orang lah kita nanti di Medan ini, belum lagi untuk ongkos para bapaudanya, oppungnya dari kampung sana, bah!!. Hampir tiap hari sabtu saya menikahkan orang lain. Kau tau sendiri, Bapak salah satu penetua adat marga kita di Medan ini, siapa yang tak kenal dengan amanSinta, Raja parhata itu. Lalu apa kata mereka, kalau boru satu-satunya menikah tanpa diadati?”

“Ya sudahlah, lihat besok sajalah, nanti kita diskusikan bagaimana bagusnya. Ada bagusnya kita meminta pendapat boru kita juga” ujar NaiSinta bijak. Seraya mengelus lengan amanSinta. Tersenyum dan mereka tidur.

* * *

Money13Sejenak aku menghentikan aktifitasku, melepaskan sarung tangan dan menyeka keringat di leherku, seraya menghampiri lelaki muda dan duduk menyamping denganya. Ada kegalauan dihatinya.

“Kenapa? dari tadi murung terus??” kataku

“Nggak, Bang” sahut Frans.

“Calon pengantin baru nggak boleh murung , rejeki hilang…” kataku memberikan lelucon.

“Ah…abang, ada saja”

“Terus…kenapa?”

“Itu dia bang, sepertinya kami nggak jadi menikah tahun ini”

“Kenapa?”

“Belum ada duit”

“Loh…bukanya dari dulu sudah dipersiapkan?”

“Kami pikir awalnya bisa mulus. Ternyata, saya harus menyediakan uang sebesar empatpuluh juta kepada calon mertuaku. Belum lagi mikirin ongkos buat orang tuaku dari Flores ke Medan, entah harus habis berapa bang. Padahal, uang yang kukumpulkan nggak sampai segitu.”

“Emang kamu pikir menikah itu gampang?” tanyaku seraya mencoba menyelidiki apa yang ada dalam hatinya.

“Bang, boleh nanya tentang adat batak?” Frans balik bertanya

“?!”

“Serius bang, aku mau tahu banyak tentang adat batak.”

“Kenapa nggak sama pacarmu kamu tanya?”

“Dia juga nggak terlalu ngerti, dia sudah lahir di Medan”

“Trus, yang mau kamu tanyakan apa??”

“Kata dia, uang sebanyak itu buat sinamot, aku nggak ngerti apa itu sinamot.”

“Kalo bahasa umumnya mas kawin” ujarku sekenanya. Toh, kalaupun kujelaskan detail tentang sinamot ini pasti dia tidak akan mengerti. “Bukankah dikampungmu ada juga sinamot, kalo nggak salah, namanya belis?” sambungku sekenanya

“Iya”

“Dan dengar-dengar, dikampungmu, pihak keluarga si perempuan pun bisa meminta belis ini hingga puluhan juga, atau sampai harga yang tak masuk akal” tanyaku

“Iya, baru-baru ini seorang sepupuku gagal juga menikah gara-gara pihak si perempuan meminta seratus limapuluh juga, belum termasuk lima ekor kuda dan lima ekor kerbau”

“Hah!!…ini perampokan atau apa”

“Kaget kan??”

“Nggak juga, aku cuman heran, keluarga pacarmu yang boru batak minta empatpuluh juta saja, jauh lebih besar dari permintaan pacar sepupumu kamu sudah keberatan.”

“Bukan begitu, Bang. Seandainya kami orang kaya, jangankan segitu, tiga kali lipatnya pun kami berikan.

Coba abang pikir, tanah kami di Flores, rumah dan minjam dari tetangga kami pun, nggak bakalan bisa sampai empat puluh juta. Saya sungguh heran.”

“Kenapa??”

“Abang tau kan, kampung halaman kita termasuk daerah pemeluk agama kristen yang taat. Di tapanuli dan di Flores sama saja. Tapi pengaruh kekristenan ini tak mampu mengubah adat yang kalau kita lakukan bisa-bisa setelah itu kita melarat. Dikampung saya, hingga tua pun, utang mas kawin ini belum terlunasi dan terus ditagih pihak keluarga siperempuan”

“Ya, disuku lain, yang juga pemeluk Agama Kristen taat, maka hutang mas kawin ini sangat mencekik. Mas kawinnya bisa sampai berpuluh-puluh ekor babi, bahkan ada yang sampai berhutang mas kawin. Sampai tua juga belum bisa melunasi hutang mas kawin. Sebenarnya, dari dulupun, sinamot bagi orang batak tidak pernah menberatkan pihak laki-laki apalagi membuat hidup keluarga laki-laki menjadi melarat. Orang batak tidak pernah berhutang sinamot, karena sinamot ini disepakati berdasarkan kemampuan silaki-laki. Sinamot itu adalah dari hasil matapencaharian orang tua si pengantin laki-laki. Harta warisan, pusaka, rumah keluarga dan harta lain yang merupakan harta bersama tidak bisa dijadikan sinamot. Peran juru bicara sipengantin laki-laki, atau Raja Parhata juga bisa menentukan dalam menawar sinamot ini. Kalau dilihatnya orang tua laki-laki berpenghasilan lumayan, maka takjarang juru bicara pengantin perempuan mencoba menyebutkan nilai sinamot yang sedikit besar, hal sebaliknya, kalau sudah tahu sipengantin laki-laki datang dari golongan orang susah maka sinamot juga tak akan dipaksakan. Sinamot juga merupakan bentuk penghargaan dari pihak laki-laki. Sinamot untuk jaman sekarang ini, di dalam pelaksanaan adat batak,

sudah termasuk di dalamnya biaya-biaya pesta. ”

“Kenapa harus berpesta? toh pernikahan tak identik dengan pesta?”

“Iya, sebagian dari orang batak itu punya rasa gengsi yang tinggi. Adalah satu kebanggaan tersendiri bila menikahkan anak dengan mengundang banyak orang. Belum lagi, kalau si orang tua perempuan adalah seorang yang rajin ke pesta adat atau raja adat. Seolah dia punya hutang adat yang harus dibayarkan pada sanak keluarganya. Bahkkan ada beberapa kejadian, bahwa si empunya pesta terpaksa meminjam duit ke Rentenir hanya untuk biaya pesta. Oh ya…Satu hal lagi, sinamot yang diminta calon mertuamu itu mungkin termasuk untuk pesta adat pengukuhan mu menjadi orang batak dan biaya-biaya lainya. Sebenarnya yang membuat adat ini mahal justru beberapa hal yang tak bersinggungan langsung dengan adat itu sendiri. ” kataku menjelaskan.

“Iya, Bang dan calon mertuaku sudah menyinggung masalah ini, apa harus seperti itu?” tanya Frans

“Yup, namanya juga Adat Batak, dan biasanya marga baru ini diambil dari marga dari suami bibi si calon pengantin. Yang menjalankan adat batak kan hanya orang batak, jadi kalau kamu mau mangadati, yah harus jadi orang batak dulu”

“Ribet dan belisnya orang batak sama saja dengan di kampung saya”

“Iya, jangankan kamu dari suku lain. Bagi sebagian orang batak, khususnya generasi muda pemberian sinamot ini dianggap sudah tak jamanya lagi. Ingin menikah express, diberkati di gereja cukup. Uang sinamot ini mending ditabung buat beli rumah atau modal usaha. Padalah, kalau dipahami maknanya cukup luas dan mendalam. Bagi orang batak, adat batak adalah harga mati. Masalah sinamot hanya secuil kecil saja. Mulai dari seseorang dilahirkan kedunia ini, maka adat kebatakan ini sudah dijalankan. Ribet memang dan tak menguntungkan secara materi.”

Lelaki itu diam seribu bahasa, terbang dalam angan dan entah apa yang dipikirkanya. Aku tak yakin sang pengelana cinta ini mengerti apa yang sudah kujelaskan.

“Sebenarnya, bukan Sinamot ini yang membuat mahalnya satu pesta batak, banyak hal-hal yang dilaksanakan didalam pesta adat batak itu tidak merupakan keharusan. Hanya karena mengikuti kemauan kerabat, sanak saudara, gengsi maka pesta adat dipaksakan.”

“Bukankah pesta orang batak harus meriah seperti di teman kita bulan lalu” tanya Frans, mengingatkan saya pada sosok Samuel, kenalanku yang baru saja melangsungkan pesta pernikahan dengan mewahnya di Hermina Hall.

“Seandainya mau mengalahkan gensi dan lain halnya, maka sinamot lima juta pun sudah tergolong besar. Dan itu tidak akan mengurangi sakralnya dan sahnya adat batak”

“Maksud abang?”

“Coba kau hitung dulu berapa biaya pakaian yang dikenakan, mulai dari pakaian pengantin hingga orangtua keduabelah pihak. Bahkan sampai menjahitkan khusus, seragam. Lalu, lihat sendiri. Mana ada pengantin sekarang ini pakai pakaian ada Batak. Yang ada pakaian dari daerah lain, yang harganya mahal hingga jutaan. Lalu biaya musik, dokumentasi dan pernak-pernik pesta lainya?”

“?!..maksud abang??”

“Ya…Yang ada Songket Palembang, katanya lebih bagus!’ ujarku sok tahu.

“Banyak lagi hal-hal kecil yang ditambah-tambahkan kedalam ritual pesta adat batak, dan kalau dikumpul-kumpulkan, biayanya sudah bisa untuk menyelenggarakan pesta dua kali. Jadi nggak usah takut dan kuatir, pesta kalian juga bisa dilaksanakan dengan modal yang kecil, asal calon mertuamu mau!” lanjutku

Aku menatapnya dalam.

“Ya…harus mau…tak hanya calon mertuamu, tapi seluruh orang batak yang sudah berpikiran maju harus jeli melihat, mana adat yang harus dipertahankan mana yang sudah bisa dirubah. Satu lagi, jangan bikin pesta adat hanya karena terikut-ikut ataupun pengaruh keluarga. Tapi harus kita kembalikan pada prinsip dasar dan tujuan adat itu diciptakan oleh para pendahulu kita.” ujarku seraya menghabiskan minumanku dan memasang sarung tanganku kembali bersiap untuk bekerja. Aku melirik kearahnya dan kulihat sebuah senyum dibibirnya dan matanya mulai berbinar. Lalu aku menepuk pundaknya dan mengajaknya kembali bekerja.

* * *

Money9“Aku nggak jadi merit” ucapnya hampir tak terdengar. Ketika kutanya kelanjutan cerita pernikahanya dengan gadis pilihanya. Pandangan matanya sayu, sesekali dia melihat ke layar HPnya. Tanpa ekspressi.

Aku aktifitas makanku. Kuraih tissu dan membersihkan mulutku. Kutatap dia, tajam.

“Ada apa lagi, bukankah kemaren sudah selesai urusanya? bukankah tinggal hari pernikahanya? bukankah hari kemaren kamu sudah nyari-nyari tiket ke Medan, sibuk sendiri reservasi tiket? trus hari cutimu yang kamu ajukan buat apa?” tanyaku memberondongnya.

“Iya bang…”

“Iya apaan?…macam telor ayam aja kau, mau kawin juga susah kali, kawin, nggak, kawin, nggak…cemmananya”

“Ini sudah pasti batal”

“Ada yang bisa kubantu?”

“Kemaren, Pak Bram tidak mengasih pinjaman dari kantor, seperti yang aku bilang tiga hari lalu, kalo aku harus meminjam sejumlah uang, untuk menambah uang tabunganku. Untuk ongkos-ongkos dan untuk sinamot itu. Sementara, kemaren siang, pihak bang juga tak meng-acc pinjaman lunak yang kuajukan itu, katanya syarat tak mencukupi, entah apa alasanya yang tepat”

Dia tediam

Aku tertegun melihatnya.

“Jalan terbaik, yah dibatalkan saja dulu. Kalau memang jodoh, mungkin tahun depan atau mungkin dua tahun lagi, aku sudah membicarakan dengan Sinta, dan mau tak mau, inilah resikonya” ucapnya seperti menyesali keadaan.

“Ya sudah, Tuhan pasti memberikan apa yang terbaik” ujarku menghiburnnya.

Tak dapat berkata-kata, hanya diam, mematung ditempatku. Segala sesuatu yang direncanakan jauh hari, kini hanya kenangan. Aku menggeleng kepalaku, melihatnya semakin jatuh.

Comments are closed.