pandanganhttp://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/79930

By : ParpisoLeppar <alpredogultomalpredo@xxx>

Horas tu sude angka dongan di milist Batak Gaul on..!

Molo Bahasa Batak ni Batak Gaul Nahuboto = Batak Margaya…(On manurut au do da, diakka noso setuju boi dipatikkos, alai dang masa muruk-muruk dohot saling mandabuhon, sitokka marbada i, apalagi marbada Mucung,he..he..he..) dangi akka dongan!!

Terima kasih atas tanggapan teman-teman halak Iboto dohot akka Laekku hasian. Kalu boleh jujur, itu merupakan pengalaman pribadi. Memang kalau teman-teman mengatakan, “Apakah saya termasuk orang yang menjaga gengsi terutama kepada Anak boru”, saya akan jawab, “iya.”. Tapi untuk Br.T ini benar-benar saya tidak gengsi-gengsian.

Kalau teman-teman bertanya lagi apakah ini sebuah penyesalan karena saya tidak bisa memikat hatinya si boruadi?
nggak juga, justru yang terjadi pada saya saat ini menyadari, “Mencari Mutiara itu tidak Gampang, makanya mutiara itu Hargannya mahal”.
Memang dalam tulisan saya pertama, baru saya sadari sudah memasuki dua topik yang berbeda persoalan, hanya saja Galak dan Keras-nya yang ikut-ikutan disana.

Kalau ditanya lagi, apakah wajahnya yang Galak atau Suaranya?
Yah, Ito bisa bayangkanlah Produk Kampung Gimana…yang dibesarkan sama PURIKK, (Air Tajin/air nasi itu loh ito..Pernah masak Nasi ngakk..kan ada airnya warnanya mirip susu, dicampur garam biar ada rasannya), sama sayur silalat/ikkau lalat (Itu loh ito..daun singkong) pagi sore, pagi sore, pagi sore…tiap hari lauknya. Maklum, dikampung saya Pangaribuan dulu ekonomi susah, prinsip utamanya “Napetting Butong/Bosur (Yang penting Kenyang).
Sekarang, sudah lumayan. Dulu kita bisa makan dengan ikan sampah (sejenis campuran dari ikan-ikan kecil, ada ikan teri, udang, sibalean, dll) sama gulamo digoreng pakai minyak goreng sudah mauliate bangat. Kadang itu ikan tidak di goreng, karena minyak goreng habis, cukup hanya disaok-saok saja (jadi itu, ditataring/tempat masak dengan kayu bakar, kan ada dalihan natolu. diatas dalihan itu, ditarok piring kaleng, sesudah piring kaleng tersebut panas, dimasukin tuh keatasnya ikan samapah/gulamo, lalu disaoksaok atau seperti manggoreng diaduk-aduk pake sendok tapi tidak pakai minyaknya. Sampai matang yang artinya sama saja seperti dibakar. Cuma bedanya, abu bakarannya tidak ada/bersih.

Nah..bisa bayangkan kan, anak masa pertumbuhan dikasih begitu???
Tapi Tuhan Adil sejelek-jeleknya daun singkong, pasti ada manis-manisnya walau dikit.

Pun demikian terimakasih atas tanggapan Ito-Ito ku semua dan lae-Laeku. Sekalipun kita hanya bisa berkenalan di Situs ini, pahit-pahitnya saya sudah merasa terhibur atas jawaban Ale-alekku (teman-teman). Selanjutnya, tentu akan saya bawa dalam doa. Saya harap akka alealekku pe, mau memberikan saran, jika suatu hari nanti kita bisa bertemu hal yang sama dengan saya.

Yah..sampai saat ini komunikasi saya dengan Boru T, masih bagus, ternyata benar juga, untuk menjadi seorang petarung sejati susah juga. Petarung yang siap kalah siap menang, ini memang harus memiliki jiwa besar. Tapi dalam kenyataan susah untuk merealisasikannya. Jujur saya sudah ungkapin perasaanku pada Boru ni Tulangi..cuma ditolak mentah-mentah.

Justru disatu sisi saya salut sama dia, tipe cewek yang memiliki pendirian. (ngak tau ya, mungkin kelebihan saya belum ada dibanding cowoknya yang jawa itu).
Tapi saya berpikir lagi..”Sayang ma on Tuhalak Jawa i (sayang kali dia sama orang Jawa itu)

Saya sudah dua kali ketemu Mamanya, dia dari Keluarga yang baik. Waktu itu, tepat Hari Sabtu, saya bersama kawan-kawan besuk ke rumahnya, karena Mamanya waktu itu lagi sakit karena ditabrak motor dan harus masuk rumah
sakit. Kebetulan diantara kawan-kawan menunjuk saya, memberikan kata-kata penghiburan untuk mewakili. Saya memberanikan diri menjadi sok-sokkan. Kalau ngak salah waktu itu saya bilang begini,
“Songonima tahe dohonon nami tu nantulang, ro hami dongan-dongan ni si Bunga (nama samaran) sian Lembaga Bantuan Hukum Univ…, mamerang Nantulang ima na mengalami musibah dah hamu natulang, ia Si Bunga on, nungga huanggap hami adek nami on, berarti molo omak ni dongan nami dohot do hami mar oma. Sai anggiat ma tutu di pargogoi Tuhanta akka obat napinangan muna asa tu mibu amalum. Huboto hami do nantulang songon dia pakilaanmu, ikkon boi Nantulang sada ama dohot ini di napagodang-godang akka Iboto nami on. Pos do roha nami tu joloan ni ari, boi hami ajarajarion muna, asa jolma nahasea hami tu joloan niari. Huhilala hami do nantulang na dibagas roha muna i, tarlu mobi hami na lahir di bona ni pasogit….. …..dst”.
Saat itu Mamanya sampai menetekkan air mata, jadi sedih rupanya mendengar ucapan kami.

Kemudian ada satu keluarga tetangganya menjenguk nantulang itu berbarengan dengan kami. Bunga panggil Namboru.
Sesudah acara ngobrol ngarol ngidul, tiba-tiba nyeletuk begini,
“Ai marga aha do halet mu Bunga, halak hita do?”, ucap Namborunnya.
Lalu spontan dijawab Mamanya, “Ikkon halak hita do dah, masai tumagon halak hita i”, kata Nantualang itu.
Dalam hati ku, “Ee ee eehhh, sugari manian olo boru naon tu iba, ahh..ahh..tabo mara gabe hela ni nantulang on.
Omakna pe burju, boruna pe burju”, gumanku dalam hati.
Lalu pikirku lagi, “Molo attar suman hal hita i pittor sai di lele lele hal ion ni do tahe..oh Tuhan Nabasa, asi maroham,” ujarku dalam hati.
Sampai kami pulang, sengaja saya pinjam mobil teman untuk berangkat bareng dari kampus dan pulang ke kampus lagi, kebetulan Bunga ikut lagi ke kampus, Mamanya berpesan sambil sedih, “Ajar-ajari hamu adek munai da, amang!!”
Lalu saya jawab, “Olo Nantulang, molo si Bunga on pos do roha mamereng on, na malo do on anggo nasasada on,” katakku.

Yang paling menyakitkan, saya duduk di bangku belakang. Di depan ada dua orang cowok sama sopir, lalu ditengahada memang emapat orang dia salah satunya khusus cewek. Kami dibelakan tiga orang, Mobil yang saya carter tanpa sepengetahuan dia, Toyota Kijang, jadi posisi kursi di belakang kan berhadap hadapan. Pas dia mau ikut ke kampus lagi, mungkin karena di jok baris ke tiga sempit, dia jadi pindah ke sampingku.
Lalu dalam hatiku berkata gini, “Amongo Inong, Tuhan Nabasa, Patamba-tamba dohot pasungul-sugul sidangolan nama on, diboto Itoannon do Holong roha tu Ibana, jala dang olo, alai ikkon dilambung niba on ma muse huddul..eeehhh, nasib pi”, narohakku muse.

Ima muse sabungan ni cerita i daba akka dongan.. mauliate.

Comments
  1. merlin silaban says:

    Horas bang, pengalaman yg menarik.tapi enggak smua wanita kok gak suka cwok batak..saya suka kok cwok batak karena biar bisa gabung dan nyambung dengan uda2 n amangboru ku..walaupun sya jga pernah pacaran dengan yg jawa. tapi iya terlihat beda bgt klo pacaran dengan orang jawa dan batak..tapi kembali lagi kita melihat diri kita masing2, siapakah kita sebenarnya??dari manakah asal kita.itu mungkin masukan dari aku.selamat berjuang. Mauliate.

  2. Romastiur Nainggolan says:

    saya dulu sama spt si boru T nya ito, tapi skarang saya memutuskan dn komitmen Pria Batak yang harus jadi teman hidup saya. jika wanita tetap bertutur lembut agak aneh jika Pria Batak nya masih galak2 dan Keras, bukan maksud mengubah tp ala bisa karna biasa.:-) yg paling saya salut dgn Pria Batak adalah Setia Kawan dn tanggung jawabnya, meski ada yg memang pecundang, maaf. salut buat ito, maju terus. Gbu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s