pandanganhttp://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/79746

By : Parpisoleppar <alpredogultomalpredo@xxx>

Horas Dihita Saluhutna !
Pada tulisan ini, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan yang sederhana dan sering kita jumpai disekitar kita, sadar atau tidak sadar, untuk kita semua pembaca yang Budiman. Tentunya dengan harapan saya bisa memahami jawaban dan tanggapan pembaca.

Pertama sekali perkenankanlah saya membuka jati diri saya. Saya adalah seorang perantau dari Tapanuli Utara, ke Jakarta Tahun 2000 sesudah menamatkan pendidikan SMA, biasa disebut Batak Tembak Langsung (BTL). Sudah barang tentu, tutur bahasanya agak keras-keras dan paten sekali, kata lembutnya layak untuk diketawain dan pusat perhatian.
Seiring waktu berlalu, pergaulan di Kota Metropolitan mulai dari kuli bangunan, pengamen jalanan sampai pejabat tinggi sudah banyak yang saya kenal, walaupun hanya sebatas kenal. Namun logat dan tata cara mengucapkan bahasa batak saya masih ketara sekali, pun saya sudah berusaha merubahnya. Kata teman-teman memang sudah dari sononya.

Singkat cerita, pada awal tahun 2008 saya bertemu dengan seorang wanita boru Batak Br. T, Kami sama-sama satu kampus di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta. Sekali pandang, dua kali, tiga kali dan sedikit berbicara kepadanya, berkat pengalaman-pengalaman dilapangan, batin saya langsung berkata, “Ini gadis bukan gadis biasa”.
Saya terus berusaha menyelidikinya, karena dia juniorku di kampus tersebut dan keakraban saya ke Dosen-Dosen pengajar, saya bisa tau kalau dia orang yang cerdas dan pintar. Karena nilai rata-rata mata kuliahnya dari UTS sampai UAS selalu A. Kemudian tutur bahasanya yang sopan dan lembut, semakin membuat saya penasaran. Penampilan yang sederhana, dandanan yang polos serta bergaya apa adanya, turut serta membawa pikiran saya berputar-putar ingin mengetahui siapa dia sesungguhnya.

Kami kebetulan masuk sore, dalam arti kami kuliah sepulang kerja. Setiap kali ditanya apa profesinya, dia selalu berkata “Saya kerja di Ramayana Bang!”, begitu selalu. Usianya masih relatif muda sekitar 21 tahun. Beberapa teman-teman saya, yang juga menaruh perhatian kepadanya, mendengar profesinya, langsung menjauhkan diri. Maklum, mereka rata-rata polisi dan pegawai negeri. Sedangkan saya hanyalah buruh kecil yang ingin lepas dari kemiskinan (kalau bisa). Dalam hatiku, “Sekalipun dia berprofesi demikian, kalau dapat yang begini dijadikan istri, alangkah senangnya hati Orang Tuaku, apa lagi orang tuaku perempuan bermarga yang sama dengan dia”.
Seiring waktu berjalan, dengan penyelidikan yang saya lakukan, ternyata saya ketahui dia seorang PNS di salah satu Birokrasi Pemerintah. Artinya selama ini dia telah menutupi profesinya sampai 2 tahun.

Ceritanya begini, Waktu itu, saya pernah melihat Flasdistnya, dalam hatiku, “Masa tidak ada data dirinya disana?” Benar saja, ku intip-intip kapan bisa meminjam Flasdistnya, ketika ada waktu “Dengan pura-pura memelas kepadanya, saya ketinggalan Flasdist, padahal saya sangat butuh untuk memindahkan data hari itu dari Komputer milik kampus, saya berusaha untuk meminjam Flasdiscnya” ternyata dia tidak tega juga, dengan syarat Harus dibawa esok hari.
Sayapun langsung meng “Iya” kan, sampai di kantor, saya buka Filenya, ternyata dia PNS dan orang penting juga di kantornya.

Saya kaget bukan kepalang, “Astaga dia begitu rendah hati, tidak seperti cewek batak pada umumnya,” gumanku dalam hati. Sempat terpikir olehku, “Saya terlalu percaya diri dengan diriku, dia jauh diatas levelku,” kataku dalam hati.
Lalu malam itu langsung saya SMS Dia, “Dek rupanya Adek PNS ya”. Lalu dia jawab, “Jangan samapai teman-teman tau Pekerjaan saya Bang. Saya percaya Sama Abang”, begitu SMS balasanya.
“Alangkah rendah hatinya Boru ni Tulang on” Gumanku lagi.

Saya terus mencoba berusaha mendekatinya. Suatu ketika saya menanyakan status keluarganya. Menurut pengakuannya, Mereka terdiri dari empat bersaudara, semuanya cewek dan ayahnya sudah lama meninggal, jadi Mamanya sudah lama Mabalu (Janda).

Lalu saya coba bertanya, “Apakah Adek sudah punya pacar?”
Dia bilang “Sudah Bang”. “Marga apa”, timpalku, “Orang Jawa Bang Tapi se-Iman dengan Kita,” jawabnya polos. “Kenapa tidak orang batak dek”, tambahku lagi, “ORANG BATAK KAN GALAK-GALAK DAN KERAS-KERAS BANG, Sedangkan orang Jawa kan lembut-lembut Bang!”, jawabnya.
“Abang juga Galak”, candanya lagi.
Mulai dari situ, saya mulai malu diri. Karena saya sadar juga tata ara bahasaku.

Penyelidikanku tidak berakhir, ternyata pacarnya adalah teman kerjanya juga, mereka sama-sama PNS. Akhir kata setelah usaha-usaha pendekatan saya tidak mendapat respon akhirnya saya mundur teratur.

Pada jaman sekarang ini, kejadian seperti yang saya alami bukan satu, dua, tiga lagi. Bahkan banyak juga teman-teman sesama orang batak karena nada bahasa/logat yang kental bataknya sering ngejek,
“Dasar batak, norak bangat bahasanya”, pada hal dia sendiri orang Batak.
Itu sering terjadi dan diucapkan orang-orang batak juga, utamanya yang lahir dikota. Tak jarang saya mendengar cerita-cerita cewek-cewek Batak yang mengatakan “Wah…lebih baik pacaran sama halak ion saja,”

Kalau boleh jujur, gadis-gadis batak walau sudah lahir ditangan Dokter atau Bidan (Lahir di Kota.red) kecantikannya masih kalahlah cantiknya dibanding dengan halak ion. Maka sudah pasti, gadis-gadis batak yang cakaplah mau digait halak ion.

Cowok-cowok Batak memang ada galak-galaknya, itu tidak bisa dipungkiri. Tetapi kalau tidak demikian, pernahkah mereka yang mencela cowok-cowok batak, berpikir, “Kalau tidak seperti itu, orang tua mereka tidak akan mendapat sejengkal tanah di Jakarta ini. Atau maju pesat seperti sekarang. Coba bertanya ke Orang tua mereka modal Ijazah apa yang dibawa dari Kampung-Kampung sana datang merantau ke Jakarta. Hanya lulusan SMP dan SMA. Soal tangungjawab saya pikir cowok-cowok Batak paling bertangung jawab, sekarang rata-rata sekalipun bukan anak PNS atau penghasilan biasa-biasa saja, bahkan rumah ngontrak terus sampai tua, pasti anak-anaknya di sekolahkan sampai sarjana. Atau paling tidak dicarikan kerja buat anak-anaknya yang pantas dan lebih baik dari orang tuanya sekalipun harus mengumpulkan uang untuk biaya “sogok” kalau anaknya tidak mampu secara SDM.
Itulah hebatnya orang batak, lulusan boleh dari kampung tapi soal kegigihan dan tangungjawab apapun dilakukan untuk anak-anaknya..
Itulah orang Batak.

Saya juga pernah berteman dengan BR S, jujur dia memang cantik bekerja di sebuah Rumah Sakit Bonafit di Jakarta. Sama dia tidak suka dengan Cowok orang Batak. Dia sempat berpacaran dengan saya, lalu entah kenapa Dia memutuskan saya hanya lewat SMS. Beberapa bulan kemudian, ku dengar dia pacaran sama Halak ion, dalam masa pacarannya, juga dari teman-temanya, belum 1 bulan mereka pacaran dia sudah diajak Cek In ke salah satu Hotel, untungnya dia berontak waktu itu. Dalam hati saya, “Ketika saya berpacaran dengannya, mencium keningnya dan tanganya saja saya harus permisi. Ini belum pacaran seumur jagung sudah pengen Cek in”

Saya tidak menyangkal, bahwa cowok batak banyak bajingan apalagi dianugarahi wajah tampan, banyak diantaranya yang pecundang. Jadi laki-laki jalang, dengan gaya bahasa yang pandai, tapi yang dirusak wanita-wanita batak pula.

Akhir kata, saya membagi pengalaman ini, agar kita dapat menyikapi dengan positif. Kalau tidak kita yang menghargai dan mewarisi suku kita siapa lagi.
Apa mengkin SBY, JK, MEGA? atau Presiden Amerika?
Marilah kita bangun persaudaraan, bertemu sesama halak hita apasih susahnya kita lakukan seperti yang mereka lakukan.
Seyum, sapa bila perlu sanjung sehingga komunikasi berjalan. Jangan seperti sekarang, satu kantor sama-sama orang batak atau satu angkot sudah kelihatan muka-muka bataknya, tidak mau saling sapa. Atau pengen disapa, malah buang muka. Sadarlah kita Seganteng-gantengnya atau secantik-santikanya orang batak, ciri-ciri muka orang Bataknya pasti kelihatan.

Horas ma dihita saluhutnya

Comments are closed.