Archive for February, 2009

Sumber: Mailing List Batak Gaul-Yahoogroups

Kutipan email: Pormadi Simbolon

Sumber Kutipan: Antara

JAKARTA, KAMIS — Rumah adat masyarakat Batak yang dibangun atas inisiatif pastor Matthaus pada tahun 1978 menjadi daya tarik wisata Kota Weperloh, Negara Bagian Niedersachsen, Jerman Utara. Konsul Jenderal RI Hamburg Teuku Darmawan didampingi Ketua Masyarakat Nauli Indonesia (MNI) Hamburg Paris Rumahorbo mengadakan kunjungan ke Weperloh di negara bagian Niedersachsen, kota yang terkenal dengan adanya rumah adat Batak.

(more…)

http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/75828

Oleh : Horden SILALAHI (0812.6338 0333/0852.6100 0945)

Almarhum Anggiat Siahaan Pencetus Nama Ombus-ombus No.1

Sekitar 60 tahun silam zaman kemerdekaan Indonesia, gerak perekonomian masyarakat di Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara mulai Nampak dengan berbagai kegiatan aktivitas perdagangan, mulai perdagangan hasil pertanian hingga sembilan bahan pokok. Namun disisi lain, kreativitas masyarakat didaerah ini muncul, salah satunya adalah membuat dan menjual lepat dengan ciri khas tersendiri. Memang, sebagian besar daerah memiliki ciri khas masakan khas masing-masing dan hingga saat ini selalu dipertahankan dengan berbagai alasan mulai dari adat, budaya maupun alasan tertentu lainnya.

Demikian halnya di Kecamatan Siborongborong, daerah ini memang cukup strategis untuk zona kawasan bisnis, karena berada di daerah Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Tarutung-Balige. Kawasan ini juga berada dipertengahan daerah Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Humbahas. Sehingga tak bias dipungkiri, banyak pedagang dari ketiga kabupaten tersebut melakukan pengembangan usaha di daerah ini.

Awalnya, sekitar tahun 1940-an, almarhum Musik Sihombing lah yang memulai usaha berjualan lepat ini yakni di rumahnya, di Jalan Balige Pusat Pasar Kecamatan Siborongborong. Namun kala itu, Almarhum Musik Sihombing memberi nama lepat tersebut Lappet Bulung Tetap Panas. Usaha tersebut dinilai warga cukup menjanjikan, karena pembelinya cukup lumayan.

Dinilai berhasil, Almarhum Anggiat Siahaan datang dari Desa Pohan Tonga, Kecamatan Siborongborong mulai ikut membuat lepat seperti yang dimulai oleh Almarhum Musik Sihombing. Dibantu sang istri, Almarhum Horlina boru Nababan, akhirnya Almarhum Anggiat Siahaan pun mulai berjualan lepat dengan cara menganyuh sepeda dari desanya. Saat berjualan, Almarhum Anggiat Siahaan mungkin terlalu rancu menawarkan nama jualannya yang terlalu panjang yakni lappet Bulung Tetap Panas seperti yang dimulai Almarhum Musik Sihombing. Sehingga muncullah ide kreatif Almarhum Anggiat Siahaan untuk memberinya nama baru yang lebih simple dan menarik. Nama lepat tersebut dia beri usul Ombus-ombus No.1.

Kalau menilik soal nama dalam Bahasa Batak tersebut Ombus-ombus berarti tiup-tiup. Mungkin alasan Anggiat memberi nama tersebut disebabkan lepat yang terbuat dari tepung beras ini lebih enak dimakan saat panas-panas. Namun pembuatan nama baru ini bukannya berjalan dengan mulus begitu saja, sejak nama baru itu dikumandangkan Almarhum Anggiat, pertikaian soal namapun terjadi dengan almarhum Musik Sihombing (tidak dikisahkan dalam berita ini). Pertikaian itu berakhir seiring dengan waktu, dan Almarhum Anggiat Siahaan tetap mempertahankan nama yang dicetuskannya itu tanpa memikirkan hal-hal lain.

Hampir setiap hari, Almarhum Anggiat Siahaan menjajakan lepat Ombus-ombus No.1-nya ke Pasar Siborongborong. Ditengah ramainya Pasar Siborongborong, Alamarhum Anggiat tetap gigih menjajakan lepatnya.. Sementara dirumah, sang istri Almarhum Herlina Boru Nababan sudah menyiapkan lepat baru untuk dijual keesokan harinya. Dengan tekun dan kerja keras, kedua Pasangan Suami Istri (pasutri) ini mampu meraup keuntungan yang cukup untuk membiayai kebutuhan rumahtangga meereka hingga dari keduanya dikaruniai 8 anak (dua laki-laki dan enam perempuan). Saban hari hingga bertahun-tahun lamanya, dari subuh hingga magrib, Almarhum Anggiat yang dikenal pekerja keras ini terus mengembangkan usahanya. Hingga suatu ketika, ia mendapat kado dari pihak mertuanya (Marga Nababan) untuk membangun sebuah gubuk dagangannya di depan Terminal Mini Siborongborong. Kala itu (Sekitar tahun 1970-an), menurut anaknya Walben Siahaan (51) yang saat ini meneruskan usaha orangtuanya mengisahkan, Jumat (30/1) bahwa gubuk itu sangatlah sederhana atau ala kadarnya. Yang penting bisalah untuk tempat berjualan, tutur Walben Siahaan.

Didepan gubuk kecil itu, Almarhum Anggiat Siahaan langsung membuat plang tanda Ombus-ombus No.1. Dan sejak itulah, Almarhum  Anggiat tidak lagi menganyuh sepedanya untuk berjualan, melainkan hanya menunggu di gubuk yang baru dibangunnya. Pelan tapi pasti, dengan bantuan anak-anaknya, usaha keluarga itu pun terus berjalan lancar. Tahun 1994, Alamarhum Anggiat Siahaan akhirnya dipanggil oleh-Nya, dan meninggalkan sang almarhum istri Horlina boru Nababan (meninggal tahun 2002) dan ke delapan anaknya. Namun perjuangan keras hidupnya itu tak berakhir sia-sia, tiga anaknya berhasil masuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara yang lainnya kebanyak berwiraswasta. Walben Siahaan Teruskan Usaha Ombus-ombus No 1. Walau kini berbagai jenis jajanan modern muncul diperjual belikan terutama di pasar-pasar atau pinggiran jalan Siborongborong, Walben Siahaan (51) anak kandung Almarhum Anggiat Siahaan (Pencetus nama Ombus-ombus No.1) ini tetap mempertahankan usaha yang dirintis oleh almarhum orangtuanya. Walben Siahaan yang mempersunting sang istri tercinta Besinna Boru Togatorop (42) dan dikarunia dua anak ini malah semakin mengembangkan nama Ombus-ombus untuk bisa dikenal dan dikenang oleh masyarakat luas. Walben yang kini menjadi Kepala Desa Pohan Tonga , Kecamatan Siborongborong ini dengan tidak mau kalah dengan almarhum orangtuanya. Apa ide kreatif Walben itu?
Ide itu adalah dengan membuka sebuah perusahaan jasa angkutan umum berbentuk persekutuan komanditer yang diberi nama CV. Ombus-ombus.

Apa yang membuat Walben Siahaan untuk tetap mempertahankan nama Ombus-ombus No.1?
Dikisahkannya, bahwa dulunya almarhum ayahnya, tak pernah mengenal lelah untuk menjajakan lepat yang dibungkus dengan daun pisang dan dicampur dengan gula merah dan gula pasir ini. walau hujan dan terik mentari dipersimpangan Jalinsum yang ada Siborongborong, dengan menganyuh sepeda dan dibelakangnya dibuat kotak tempat lepat Ombus-ombus No.1. Ayah ku tetap mengejar pembeli, bahkan menawarkannya ke bus-bus angkutan yang sengaja berhenti di Simpang Tiga Kota Siborongborong. Jadinya saya memaknai perjuangan keras itu sampai sekarang, hal ini juga saya ceritakan kepada kedua anak saya, tutur Walben Siahaan, Jumat (30/1) di rumahnya.

Kembali diceritakannya, berkat perjuangan keras sang ayah, ia pun bisa menikmati harta peninggalan orangtuanya, apa itu?
Sisingamangaraja atau persis didekat terminal mini Siborongborong.. Semenjak bangunan itu permanen, pembeli yang datang Sebuah gedung bertingkat yang kini ditempatinya hasil peninggalan Almarhum kedua orangtuanya. Letaknya di Jalan kerumahnya yang berbentuk warung (Lapo-dalam bahasa Batak) semakin ramai. Pembeli yang datang tidak memandang usia, semua kalangan datang, bahkan masyarakat yang melintas dari Siborongborong ini sengaja singgah untuk membeli oleh-oleh Ombus-ombus No.1, bahkan untuk acara-acara besar pun sering dipesan khusus, seperti pertemuan Usnsur Muspida Taput, Tobasa, Humbahas atau acara pernikahan dan lain-lain, kata Walben.

Ditengah usaha kerja keras Walben Siahaan untuk mengusahai jualan lepat ini, sang istrinya Besinna boru Togatorop bahkan disokongnya untuk menjadi calon anggota DPRD Taput periode 2009/2014 dari Daerah Pemilihan (Dapem 2) yang meliputi Kecamatan Siborongborong, Sipoholon, Parmonagan, Muara dan Pagaran. Jumat (30/1) Besianna boru Togatorop mengatakan, keinginanya untuk maju menjadi Caleg tak lain adalah untuk mendukung pengembangan perekonomian masyarakat dengan budaya kerja keras serta melestarikan adat dan budaya (Bagian dari sektor pariwisata) daerah ini. Perjuangan istri saya memang berat, tapi kami optimis, berkat Tuihan, dan berbekal Ombus-ombus No.1 serta dukungan masyarakat istri saya pasti bisa menjadi anggota DPRD nantinya, tukas Walben Siahaan dengan nada optimismenya.

Ketika ditanya apakah usaha lepat Ombus-ombus No.1 itu suatu saat akan hilang?
Pria yang suka nyelonoh dan humor ini dengan tegas mengatakan, bahwa usaha itu akan terus dipertahankan oleh keluarganya hingga turun temurun. Pengunjung Singgah Diwarung Ombus-ombus No.1 Sambil Minum Kopi Warung atau dalam bahasa Batak disebut  Lapo Ombus-ombus No.1 juga menyediakan kopi asli dan hidangan teh manis bagi para tamunya yang singgah ditempat ini. Sambil minum kopi, biasanya pengunjung memesan Lepat Ombus-ombus No.1 yang masih panas. Bisa kita bayangkan bagaimana nikmatnya hidangan itu apalagi dibarengi dengan cuaca dingin dan sejuk Kota Siborongborong.

Setiap minggu saya melintas dari sini sebanyak dua kali, dari Kota Pematang Siantar menuju Kota Sibolga dalam rangka tugas kerja dengan mengendarai sepeda motor. Jadi hampir setipa minggunya saya singgah di Lapo Ombus-ombus No.1 ini untuk minum kopi sambil menikmati lepat Ombus-ombus. Kenapa saya selalu singgah disini? karena jarak antara Kota Pematang Siantar menuju Kota Sibolga pertengahannya Kota Siborongborong. Jadi enak aja menikmati kopi dan lepatnya, tutur Tony Sirongoringo (32) warga asal Jalan Medan, Kota Pematang Siantar ini, Jumat (30/1) di warung Ombus-ombus No.1 milik Walben Siahaan di Siborongborong.

Mengomentari enak tidaknya Ombus-ombus No.1 yang disuguhkan, Tony mengatakan enak, apalagi kalau sambil minum kopi. Enak sih, tapi lebih enaknya kalau panas-panas sambil minum kopi, katanya. Tony menyarankan kepada pemilik warung Ombus-ombus No.1, sebaiknya lepat Ombus-ombus itu tetap dapat disuguhkan panas-panas. Kalau boleh ngasih saran, ombus-ombus itu sebaiknya tetap disuguhkan panas-panas, kadang tidak panas, jadi kurang enak dimakan sambil minum kopi, imbuh Tony.

Cocok Buat Oleh-oleh.

Sedangkan pengunjung lainnya, H.Sardian Siregar (44) yang singgah bersama rombongan keluarga dengan menaiki mobil pribadi di Lapo Ombus-ombus No.1 ini mengatakan, bahwa keluarganya di Medan sering menitipkan agar dibelikan Ombus-ombus No.1 untuk oleh-oleh. Kalau kami sudah langganan lah Ombus-ombus No.1 ini buat oleh-oleh ke Medan , setiap kami mau ke Medan atau Tebing Tinggi untuk berkunjung ke tempat keluarga selalu membeli Lappet (Lepat) ini, tukas Sardian Siregar.

Ketika Metro bertanya, kenapa keluarganya selalu memesan Ombus-ombus No.1, Sardian menjelaskan, bahwa sebenarnya yang memakan Ombus-ombus itu nantinya adalah seluruh keluarga saya dan keluarga kami di Medan.Kan enak sambil bercerita-cerita atau berkeluh kesah dengan keluarga sambil ngopi dan makan Lappet ini, paparnya.

Komponis Batak Alm. Nahum Situmorang abadikan Ombus-ombus Dalam Sebuah Lagu. Bagi Anda suku Batak, mungkin lagu Marombus-ombus karya cipta komponis besar Almarhum Nahum Situmorang sudah tidak asing lagi didengar. Lagu ini malah sudah sering didendangkan oleh para Parmitu atau peminum tuak di Lapo-lapo tuak (Kedai tuak). Entah faktor apa dulunya yang mengimajinasikan Nahum Situmorang untuk menciptakan lagu bertemakan Ombus-ombus ini yang dikaitkan dengan Si boru Hombing. Namun, kita pantas untuk mensyukurinya. Kenapa? karena ternyata untuk mengabadikan sebuah masakan khas bisa juga lewat sebuah lagu. Mungkinkah Almarhum Nahum Situmorang semasa hidupnya juga salah seorang penggemar Lappet (Lepat) Ombus-ombus?
Kita tidak tahu, ataukah lagu itu hanya sekedar hasil karya dengan imajinasi yang kuat?
ataukah Nahum Situmorang memang pernah punya kenangan dengan seorang gadis boru Sihombing?
Kita tidak tahu karena beliau telah mendahului kita yang menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 20 Oktober 1969 di RSUP Medan.

Inilah syair lagu Marombus-ombus Ciptaan Nahum Situmorang:
Marombus-ombus do, lampet ni Humbang tonggi tabo
Na ngali ari i disi anggo alani ombus-ombus do
Ai boru Hombing do, na paturehon mancai malo
Tung ngangur do datung hushus do rupana pe
Da na uli do
Reff
Oooooo doli-doli, ho naposo na jogi
Dompak Humbang i, lao ma damang da tusi
Siborong-borong i
Molo naung hoji ho, tu boru Hombing tibu ma ro
Lao ma damang da lao ma damang
Tu luat ni parombus-ombus do
Oooooo ale boru Hombing
Paima ma si doli ro
Di Siborong-borong i
Tusi nama si doli ro
Ai boru Hombing do, na paturehon mancai malo
Tung ngangur do datung hushus do rupana pe
Da na uli do
Reff
Oooooo doli-doli, ho naposo na jogi
Dompak Humbang i, lao ma damang da tusi
Siborong-borong i
Oooooo doli-doli, ho naposo na jogi
Dompak Humbang i, lao ma damang da tusi
Siborong-borong i
Oooooo ale boru Hombing
Paima ma si doli ro
Di Siborong-borong i
Tusi nama si doli ro

Sepintas dari lirik lagu itu memang singkat tapi cukup bermakna sesuai dengan kondisi daerah di kawasan daerah Humbang (Siborongborong, Doloksanggul, Lintong Nihuta, dan kawasan lainnya) ini. Tapi yang menjadi pertanyaan, akankah ada lagu pencipta lagu Batak yang mampu menciptakan sebuah lagu untuk sebuah masakan khas dari kawasan Tapanuli.? kita hanya bisa berharap atau berbuat tergantung.

Sementara ini Ombus-ombus masih tetap terjaga, dengan masih utuh adanya beberapa penjaja Ombus-ombus di Simpang tiga Siborongborong yang menggunakan sepeda. Tapi yang perlu kita ketahui, para penjual Ombus-ombus ini bukannya membeli Ombus-ombus yang akan dijualnya dari Warung Walben Siahaan (Anak pencetus nama Ombus-ombus No.1 alm.Anggiat Siahaan), melainkan bikinan sendiri. Penghasilan para penjual Ombus-ombus sepeda ini memang tidak begitu besar. Keuntungannya hanya berkisar antara Rp.30 ribu hingga Rp.40 ribu per harinya. Namun ada yang sedikit aneh, dari sekitar 8 orang penjual Ombus-ombus bersepeda di Siborongborong saat ini. Apakah itu?
Dari delapan orang ini, dibagi dalam dua kelompok, yakni kelompok Desa Somanimbil dan Kelompok Desa Sambariba Horbo. Kenapa demikian?
Inilah mungkin hasil mufakat dari pertikaian sekitar 50 tahun silam antara alm.Anggiat Siahaan dengan Alm.Musik Sihombing yang mempersoalkan nama antara Lappet Bulung Tetap Panas karya Alm.Musik Sihombing dengan Ombus-ombus No.1 karya Anggiat Siahaan. Kedua kelompok penjual Ombus-ombus tadi, kini harus berbagi hari untuk berjualan di Pasar Siborongborong. Jika hari Senin kelompok dari Desa Somanimbil yang berjualan, maka hari berikutnya adalah kelompok dari Desa Sambariba Horbo, begitulah seterusnya. Mungkin kalau kita nilai, hal ini merupakan persaingan ekonomi berdasarkan musyarawarah dan mufakat. Artinya, persaingan ekonomi sebagaimana dalam ilmu atau prinsip perekonomian dalam ilmu pendidikan yang kita peroleh tidak logis. Tapi inilah sebuah contoh keadilan dari masa silam.

http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/75587

saya mau sedikit cerita nih,

Lebaran tahun lalu aku baru saja pulang ke bona pasogit (Tanah Tapanuli) dengan tujuan utamanya adalah Siborong2, sebenarnya tahun 1995 kami sekeluarga pernah pulang kampung tapi karena waktu itu aku masih sekolah maka tidak ada acara jalan2 yang berarti karena anak2 hanya mengikuti instruksi orangtua. Nah, kemaren itulah aku baru tau yang namanya Balige, Tarutung, (walaupun mungkin sebenarnya sudah pernah aku lewati sebelumnya) Tanjung Balai, Sei Berombang, Langkat.

Adalah abang suami aku yang telah merantau ke sumatera sejak akhir tahun 90-an dan selama itu pula dia belum pernah berjumpa dengan suami aku, sekarang mereka tinggal di Sei Berombang. (Labuhan atau Asahan, aku tdk paham sekali) Setelah tiba di Siborong2, tujuan kedua dan penting ke-2 ku adalah Gurgur Balige. Jaraknya sekitar 30-40 menitan dari Sbb dan jalannya luar biasa, di balige-lah tiba2 muncul ide nekat aku untuk jalan ke tanjung Balai. Karna tiba2 aku berfikir, orang dengan ekonomi menengah seperti aku tidak bisa meramal kapan kira2 akan plesir lagi ke tanah kelahiran ku ini, belum tentu 5 tahun, 10 tahun atau bahkan jangan2 nunggu ada kabar buruk baru maksa pulang. Kebiasaan buruk budaya Timur… maka akhirnya aku putuskan untuk berani ke tanjung balai juga mencari tau rumah abang.

Aku pergi hanya dengan anak ku yang berumur 8th, dan sama sekali buta soal tanah Sumatra. Dari balige aku naik mobil lagi menuju tarutung untuk mencari mobil kearah tanjung balai, mengingat aku tidak tau medan ini sama sekali aku hanya berkonsultasi dengan teman yang membangun dan  mendoakan. Sampai di Porsea baru aku laporan via telpon dengan suami di jakarta. Sontak dia kaget dan kalang kabut.

Inti ceritanya sebenarnya bukan drama keluarga ini teman, dari tarutung jam 10 pagi dan membayar ongkos 45rb plus ongkos calo 5rb akhirnya jam 5 sore aku sampai di Tanjung balai. Mobilnya adalah kendaraan yang kondisinya persis seperti gambaran Andea Hirata di buku 4-nya (mobil bang Zaitun). Aku bisa melihat jalanan dari lantainya yang agak regas, bangku belakang pun yg seharusnya diisi 4 orang karena (mungkin) menunggu tertalu lama seorang ibu memaksakan anaknya yang remaja duduk diantara kami. Halleluyah..great 5 hours I have (karena harus pangku anakku pula).

Suara kaset naik-turun yang dipasang berkali2, menambah pilu suasana. Dari tanjung balai kami naik boat yang isinya mahluk hidup (karena ada kambingnya juga boo..) dengan harga tiket 60rb. Tanpa ada pemberitahuan (aku tanya sana-sini) kapal terapung 3 jam. Akhirnya menjelang magrib saya sampai di Sei berombang..

Cerita pulangnya lagi, kami akan ke Medan (kumpul terakhir sebelum akhirnya kembali dari Sbb) dari Sei B kami dua kali dipindah perahu kecil sampai akhirnya jam 7 malam naik bus jurusan Medan. Dengan ongkos 80rb jam 6 pagi sampailah kami di Medan. Perjalanan yang tidak akan kulupa pikirku.

Tapi kenyataan sepanjang jalan yang aku lihat…(kata org2 batak yang aku kenal) Porsea itu tanah tersubur diindonesia… kok saya ndak liat gitu ya… adalah beberapa warung2 ecek-ecek ditengah2 sawah, jalanannya.. OMG … rumah didaerah tj. Balaipun… kok bawahnya empang ya… entahlah saya tdk mengerti apakah memang harus begitu, atau memang ada yang salah or what!!

Jujur bukan melebih2kan, saya sempat juga menitikan airmata apalagi waktu lewat putaran parapat, sedih liat supirnya yang cuma dibayar 45rb/kepala, sedih lihat jalananya, sedih lihat kepasrahan mereka yang ada disebelah kanan-kiri saya.

Saya langsung teringat lagunya Romyana Sihotang (lagu ini saya dengar tahun 90-an)

..na mulak au di bulan onom manetek ma inang da ilukki marnida di tano batak i..tu longan do rohakku..hu rippu do nga majo bangso ki…
(waktu saya pulang kampung saya sedih liat kampung saya, saya kira udah maju)…

Sampai di jakarta, saya pulang naik ALS Bandung jadi transitnya di Tangerang. Kami naik taxi, hebat… hebatnya tehnologi otomotive Jakarta, 45 menit kemudian kami sudah tiba di rawamangun dengan ongkos 125rb belum termasuk 2x ongkos tol.
Hebat..luar biasa batin saya, dan ini selalu saya saksiakan sama temen2 marketing saya yang plan keliling Medan.

Bandingkan 45rb buat jalanan yang hancur dan waktu 7jam, juga 80rb dengan waktu 11 jam… ya saya tau bus dengan taxi…tapi bus ke Bandung pun untuk 1 jam perjalanan saya bayar ongkosnya 50an rb. Bahkan tidak 1/10-nya teman…

Begitu di Jakarta pertanyaan saya ke suami adalah: emang bensin di Kampung lebih murah ya? How come??

Saya tidak tau apa pemekaran dan sebagainya, tapi sebagai orang batak bahkan awampun saya sempat tercengang, masak sih orang batak udah puas dengan kehidupan kaya gini.

Tidak ada pembangunan, tdk ada produksi yang menyerap masyarakat, tidak ada bagian yang bisa dijual (salib kasih pun hanya dikunjungi oleh sedikit orang) katanya ada pemandian panas, ada pemandian soda dsb… tapi saya gak tau disebelah mana..semua seperti santapan hanya untuk kalangan sendiri.

Tapi saya yang Cuma numpang lahir di Sbb, I love my town…dan saya yakin masih bisa dilakukan pembangunan lagi lah…(entah apa istilahnya) tapi marilah lihat ini sebagai keinginan untuk memajukan kampung kita. Jangan belum apa2 sudah tunggang menunggngi (bahasa klise orang Indonesia) wong film-nya Hanung aja katanya ditunggangi. Whatever… saya awan, saya pun tidak begitu tahu kemajuan bona pasogit ini tapi mata kepala saya kemarin setuju mengatakan…pembangunan belum merata so mari kita dukung pembangunan bona pasogit ini…apapun (tdk anarkisme) yang sekiranya nanti lebih membuat negeri ini maju…

Kita sesama kelompok batak mungkin lebih memahami dan bisa menggambarkan cerita saya ini, apalagi yang sudah terbiasa mulak  tu huta.

http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/75586

Tu akka dongan, lae, ito, pariban, tulang, amang boru..tajaha majolo boa-boa naditoru on….

ORBAR = Olah Raga BAReng, acara rutin yang sudah berlangsung cukup lama, PIC-nyapun sudah silih berganti ….hehehehe ^_^

ORBAR ini salah satu event rutin dari Milis BG yang dilakukan 2 minggu sekali (jatuh pada hari Sabtu)

Olah Raga yang rutin dilakukan adalah Volly Pasir…..kolok mau, joging bareng juga ada.

Tu akka dongans yang ingin ketemuan di dunia nyata (kopdar), boleh gabung ke acara rutin ini …..

Gabung yuuuuuuks…… jangan beraninya cuma di dunia maya aja duuung….:D

Haayooooooo tunjukkan “EKSPRESI”mu …. 🙂

Disamping badan sehat, bisa menambah kenalan baru pula …..

Sambil marnonang dan lirik-lirikkan …..hihihihiihi ^_^

Mau tahu tempat dan waktunya?? Di bawah ini yaaaaaa…..

Tempat        : Lapangan ABC Senayan (diseberang Taman Ria Senayan ada pintu masuk, naaah lapangannya dekat dari situ ;p)

Hari/Tgl        : Sabtu, 21 Feb 2009

Jam              : 15.30 WIB (Waktu Indonesia Batak)  ^_*

Ohya, igil-igilna :
– Unang lupa mamboan pakaian Olah Raga
– Unang lupa mamboan pakaian ganti
– Unang lupa mamboan perlengkapan mandi 🙂
– Yang terakhir, dan yang paling penting…. unang lupa mamboan hepeng da…..hehehehehe ^_^

Silahkan aja hubungi salah satu akka parhobas (baca : PIC) di bawah ini :

1. Esra Nababan ( 021-99900510)

2. Marwali Hasibuan ( 021-70204061 )

3. Richard Sitompul ( 021-70334473 )

4. Ronald Panjaitan ( 0813-19408112

5. Junjungan Sinaga ( 021-70433952 )

Unang lupa hamuna da…….inga……inga…. tink ^_*

mauliate
Esra Nababan

Pendeta HKBP

http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/75421

Horas teman2 be gers.

Aku sedikit curhat nih masalah pendeta lagi.

Ceritanya Bapakku udah lama sakit kanker dan udah berobat ke malaysia, china dan kelapa gading,  jakarta.hingga akhirnya kita memutuskan di rawat di rumah aja.

Hingga beberapa hari ini kesehatannya mulai menurun, hingga Bapak saya meminta untuk di doakan seorang pendeta.

Nah kita coba cari pendeta HKBP, krn domisili mereka sebenarnya di pahae dan mereka jemaat HKBP pahae.

Nah tadi malam,  kita coba telp seorang pendeta HKBP yg dikenalkan oleh teman. Dan kebetulan lokasi rumah kita di depok dan pendeta yg di telp di daerah bekasi.

Kira-kira jam 4 sore kita coba telp dan jelaskan kondisi Bapak yg sakit dan mulai menurun kesehatannya dan ada keinginan Bapak untuk di doakan pendeta.

Tau nggk gimana jawaban pendeta HKBP yg b*j*t (edited modi bg) ini,

“Iya kalau kita datang ke depok, ada biaya sekitar Rp 1 juta, karena team kita ada porhangir, sintua, jadi kira2 ada 4 orang yg datang,rinciannya Rp 500rb buat pendeta, Rp 500rb buat sintua dan porhangir. Ini karena bukan jemaat HKBP bekasi, kalau jemaat HKBP bekasi cuma Rp.300rb”

Nah ting mendengar itu mama ku shock berat karena tidak percaya, masa minta tolong di doakan aja harus bayar sebesar itu.

Dan aku yang mendengar hal itu jadi panas, marah dan sebel (emang sebelumnya udah sering sebel ama pendeta ibl** (edited modi bg) ini).

Aku mau minta no telpnya biar aku maki-maki tuh pendeta, tapi tidak dikasi, karena memang aku dah sering dengar banyak pendeta-pendeta yg berlagak sok suci, sering mengandalkan ke pendetaannya untuk mencari keuntungan pribadi, dan akhirnya kami mengalami sendiri kebejatan seorang pendeta HKBP. Aku sih males nyebut namanya, biar orangnya yg sadar dan juga tau.

So buat para pendeta yg lain, nggk usah terlalu munafik deh mikirin uang dan materi, kalau kamu emang niat jadi pendeta, semua akan disediakan Tuhan buat kamu. Tapi kalau kamu cuma mau cari kaya,kayaknya jangan jd pendeta deh.

Misalnya STT HKBP Nomensen siantar, banyak yg aku tau seluk beluk mereka yg masuk pendeta karena dulunya bandel dan biar tidak bandel di masukkan ke sana, dan akhirnya jadilah pendeta-pendeta yg mencari materi.

Akhirnya kami menelpon Bapak pendeta MP HUtabarat dari gereja HKI, yg di kenalkan salah satu saudara dan mau datang dengan istrinya juga, dan melayani Bapak kami dengan lembut dan bersahabat, mendoakan kesembuhan Bapak dan siap datang kapan pun untuk di doakan. Aku terharu juga tuh ama Pak pendeta itu.

Saat pulang pun tidak ada meminta uang sepeserpun, sangat beda dengan pendeta HKBP yg b*j*t itu.

Dalam hatiku, kalau aku bisa ketemu langsung dengan pendeta HKBP yg berhati serigala itu, aku pengen melihat bagaimana sih kehidupannya setelah dia sibuk memikirkan materi. Apakah menjadi sangat kaya atau gimana ya.

Horas
Leonardo Simanjuntak