BALADA SI BUTET

Posted: December 29, 2008 in Margait-Humor, Ragam Seni Budaya
Tags: , ,

http://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/964

BALADA SI BUTET
SALAH SATU CERITA DARI TANAH BATAK

Oleh: Ambar <ambar_ic@xxx>

Butet menghadapi ujian semester. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke villanya di Puncak. Setelah keluar dari jalan Tol Jagorawi, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu Cipanas. Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton TV sambil Toruan bola, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan gayanya yang Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai anak yang ramah tapi tak gampang Hutagaol dengan sembarang orang. Naibaho ikan gurame yang dibakar dengan Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar.

Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan. Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa di antaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.

Begitu sampai di villa, Butet membuka pintu mobil.
“Wow, Siregar sekali hawanya” katanya, berbeda dengan Jakarta yang Panggabean.
Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari tapenya. Sejauh Simarmata memandang warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang semuanya Singarimbun.

Mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang ditemukannya hanyalah bekas kolam renang yang akan di-Hutauruk dengan Tambunan tanah. Sebelahnya ada kolam tapi kolam ikan Lumban-lumban. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di kebun the saja, yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiur melambai kayak di pantai. Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seekor ular yang sangat besar.
“Sinaga!” teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang.
Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan.

Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai orang Batak pantang untuk menangis. Dia harus Togar. Maka, dengan
menguat-nguatkan diri, dia pergi ke Puskesmas setempat untuk melakukan Panjaitan terhadap bibirnya. Mantri
Puskesmas tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya. “Hm, ongkosnya Pangaribuan”, kata sang mantri setelah memeriksa sejenak.
“Itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?”, tawar si Butet.
“Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil”.
“Jangan begitulah. Masa’ tidak Siahaan melihat bibir saya begini? Apa saya mesti Sihotang, bayar belakangan? Nggak mau kan?”
“Baiklah, tapi pakai jarum yang Sitompul saja”, sahut sang mantri agak kesal.
“Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit tidak apa-apalah”.

Malamnya, ketika sedang asik-asiknya belajar sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Dia Bonar-Bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara di pintunya berbunyi, “Poltak!”
keras sekali.
“Ada Situmorang?”, tanya Butet.

Sambil memegang stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan.Terdengar suara pelan, “Situmeang”.
“Sialan, cuma kucing…”, desahnya lega.
Dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen. Selesai belajar, Butet menyalakan televisi. Ternyata ada siaran
Discovery Channel yang menampilkan Hutabarat Amazon serta Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat. Saat commercial break, muncul Gus Dur yang terkenal dengan seruannya, “Simanjuntak gentar, Sinambela yang benar!”

Keesokan harinya, Butet kembali ke Jakarta dan langsung pergi ke kampus.Di depan ruang ujian dia membaca tulisan: “Harahap tenang! Ada ujian!”
“Wah telat, emang udah jam Silaban sih”.
Maka Siboro – boro dia masuk ke kelas sambil menyanyi-nyanyi. Di Tigorlah ia sama gurunya, “Butet, kau jangan
Siringo-ringo ribut! Bikin kacau konsentrasi temanmu!”

Butet, dengan tanpa Malau-Malau langsung Sijabat tangan gurunnya, “Nggak Pakpakhan bu sekali-sekali?!”

Comments
  1. Andar Siahaan says:

    Setelah membaca humor ini kalimat demi kalimat,kata demi, kata bahkan hurup demi huruf,saya merasakan 3 hal
    yakni Pertama, bisa juga buat tertawa.Kedua,pemelesetan kata menggunakan nama marga bisa menambah pemilik marga semakin tertawa apabila pemlesetan itu mengarah ke maknamakna positif,TAPI yg ketiga,pemlestn itu mungkin bisa membuat pemilik nama/marga merasa krg enak krn pemaknaaan negatif.Apkh mrg Nababan,Sihombing,Tobing dll merasa enak dan tertawa membaca pemlestan seperti pd STATUS di atas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s