pandanganhttp://groups.yahoo.com/group/Batak_Gaul/message/80066

By : ParpisoLeppar <alpredogultomalpredo@xxx>

Uwehh…tehe tung mauliate do dohonokku tu hamu Lae dohot akka Ito, gabe tubu do semangat lao mandabu holong muse tu Boru ni Tulang i.

Didok pe Taho “Si Gultom Paddabu Holong.”
Molo hujaha do sada cerita ni Laekku naburju i, rodo turoha, attar sarupa mara pargulmiton dohot pardalanon ni holong nami!
Inna rohakku tikki majaha, “Godang do hape Tudos-Tudos”

Alai hutorusson majolo cerita “Naponggoli” ate akka Aleale…

Memang sejak saat itu, kami pulang sehabis menjenguk Mamanya,, komunikasi kami tetap berlanjut dan bersikap biasa-biasa saja, walau dalam hatiku setiap kali melihat wajahnya, “Ya, Tuhan Uli Natinoppa Mon!!”.
Sesekali Setiap kami membahas suatu topik, apapun bersama teman-teman, kadang-kandang pujian ku kepadanya meluncur dari mulutku tanpa sadar. Seperti, “Molo ho Ito Bunga istimewa do ho, beda do ho sian anak boru na asing”, yang disambut ketawa oleh teman-teman.

Dia juga ikutan pula ketawa, sesudah ketawa, pasti dia bilang “Apa sich maksudnya Bang??”, katanya bertanya. Memang dia kurang paham Bahasa Batak. Sebelum dia kuliah, di kantornya dan lingkungan gerejannya dan teman-temannya jarang Halak Hita. Baru semenjak dia kuliah, baru kenal dan akrab dengan Orang Batak. Dia sangat tau bahwa saya begitu menyukainnya, begitu juga dengan teman-teman satu kelas, khususnya Orang Batak selalu mendukung saya, bahkan salah satu Dosen kami yang Halak Hita pun, pernah dalam suatu ketika mengatakan,
“Ai boado, nasotolap be, porlu turun tangan au, akka anak boru si songoni dang paluaon”, ujarnya medukung saya.

Walaupun dia tau saya sangat suka dengan dia, tapi dia bukannya menjaga jarak dengan saya. Itulah membuat saya susah melupaknnya. Kadang kala dia suka duduk disampingku. Dia tidak banyak bicara, pembawaanya yang dewasa membuat saya tak tahan di dekatnya. Pernah suatu ketika saya bertanya, melalui SMS,
“Adek Bunga, sudah berapa lama kamu pacaran sama si B (Nama pacarnya yang Jawa itu)”.
Lalu dia jawab, “Ada apa nich nanya-nanya, Puji Tuhan Bang, sudah Jalan Hampir 4 tahun…”
Pernyataan itu membuatku semakin lemas. Tapi komunikasi SmS san terus berlanjut.
“Atung so adong be huroha harapan lao tu au”, narohakku di bagasan.

Memang semenjak kenal dia, saya jadi banyak berubah. Saya tip malam berdoa, dan tiap minggu sudah ke gereja. Dalam setiap akhir doaku setiap malam songonon ma hudokkon, “Tuhan, nunga matua dagingkku, nunga marumur au, patuduhon ma nian, rokkap ni tonddiku nang pamatakku. Takkas do dibotoho lomo rohakku tu si Lia. Molo tung on nama na sian Ho nagabe rokkaphu, patuduhon ma dalan. Alai molo pe so si Lia on do, urupi au lao mangalupahon sian roha nang pikirakku, asi roham….Amen”.
Sambil mardongan ilu-ilu. Disitu saya sadar, “Sipata gabe moru do Haparemanon molo lomo roha niba mamereng na di todo niroha”

Ketika saya tau dari temannya, nama pacarnya adalah Budi, pura-pura saya tanya alamat emailnya. Ketika dia kasih, malamnya saya langsung lacak di Face Book-nya, dan ternyata, saya melihat Foto dengan Nama Lengkap “B P” Dia memang ganteng, Foto di FB itu saya lihat, BP memakai baju kebesarannya, pakaian adat Jawa.
Umurnya sudah 28 tahun, sementara si Bunga masih 21 tahun, mereka sama-sama PNS.
“Jika si BP masuk PNS dari S1 dan si Bunga dari SMA, berarti BP kemungkinan besar bisa saja sudah menduduki posisi yang bagus atau calon pejabat di kantornya”, filingku lagi.

Melihat itu, malam itu saya berniat melupakan si Bunga. Lalu saya SMS dia, “Bunga nama pacamu BP ya”
Lalu dia balas, “Iya Bang Koq tau..”
“Dia ganteng juga ya..”, balas ku.
“Tau dari mana bang, abang pernah ketemu dengan dia, Lama-lama aku BT juga dimata-matain mulu”.
Lalu saya tidak balas SMSnya. Rupanya dia masih penasaran terus, sampai malam dia SMS lagi.
“Abang tau dari mana, terims atas kejujurannya.”
Lalu aku balas, “Bunga maafkan saya, jika selama ini SMS-SMS saya mengganggu mu. Saya memang tidak pantas buat mu, tak ada kelebihan yang bisa saya andalkan dari ku, mulai saat ini saya tidak akan mengganggu mu lagi. Semoga Adek bahagia menjalani dengan BP.”
Ketika itu semua no dan sms-nya saya hapus, dalam batin ku, “Saya mundur saja, mungkin bukan ini yang Tuhan berikan buat aku.”

Paginya, dia membalas jawaban SMS ku, “Koq beda jawaban sms ku Bang”.
Lantas tidak pernah saya balas lagi. Dikampus setiap kali ketemu, saya pura-pura tidak merasa telah terjadi sesuatu. Diapun tidak berani menanyakan secara langsung. Tempat tongkrongan kami membahas berita-berita hangat sebelum masuk kelas, berjalan seperti biasa.

Hingga saya memberitahukan tentang kemunduran saya pada teman akrabku. Dia sudah berkeluarga dengan 2 anak. Dia dibawah ku satu angkatan, Sebenarnya dia sudah Sarjana Kesehatan dan bekerja di sebuah Rumah Sakit Bonafit di Jakarta dengan Jabatan Kepala Bidang. Namun dia sangat ingin mempelajari Hukum. Sehingga walau sudah kumis-kumisan, semangatnya begitu tinggi. Sama seperti saya. Jika sudah masuk kelas kebetulan ada mata kuliah yang sama dengan dia, kami berdua selalu yang paling kritis. Melihat hal itu dia jadi tertarik berteman dengan saya. Lalu pertemanan itu berlanjut, sampai ku kenalkan seorang teman akrab saya juga. Dongan sapodomakku dengan Ibotonya Kandung dan sudah diberkati Tahun lalu.

Ketika saya mengutarakan bahwa saya mengundurkan diri saja sama si Bunga. Dia diam. Lalu seperti biasa, waktu itu Hari Minggu menjelang malam, “Beta jo mangan”, katanya.
Seketika kami usai makan dia langsung memesan Bir, lalu kami minum. Seperti biasa hobi ku yang menyanyi, ku lantunkan lagu-lagu seperti lagunya, “Cintakki Holan Tu Hoo…Liaaaa…Hasiaaan Na laguguu..uuuu”, ketika itu dia dengarkan dia menyuruh saya berhenti.
Lalu dia tanya, “Ai bohado nimmu Gultom, mundur namo ho sian Si Dahlia, parcuma pengorbanan nami di bahen lae.
Manatua-tua au lae, sude dongan-dongan sa kelas madukung lae, hape muddur lae, hera naso parhitaan do lae. Nangoo maju dope au. Dang parpiso leppar be hape lae, Parpiso dapur nama”, kata lae itu.
“Atong boha nama Lae,” nikku ma muse.
“Unang hubege didok lae songoni, nanggo maju do pe au. Alai molo nungga mentok au molo dang tolapmu be, ba boha bahenon ni”, ujarnya.
Jadilah Lae Marga R itu Mak Comblang yang baik. Lalu dia tanya, “Au nungga natua-tua, boha naserius do ho, alai molo margait-gait do unang bah maila au nanon”, ninna.
“Serius do lae, naeng gabe pardijabu do bahenokku”, uhutna mangalusi Lae i.
Nang pe dibagasan rohakku, “Tuhan lean nadumenggan di au dohot di Si Lia i, dang lomonami Tuhan, tung lomo ni roham ma Nasaut.”

Seiring waktu berjalan jurus-jurus Lae itu dimasukkan untuk membedakan kelebihan Halak Batak dan Halak Jawa. Memang Lae R, termasuk yang disegani di Kampus apalagi dalam Fakultas H. Dia kebetulan satu kelas dengan Bunga dan akrab.

Namun hati ku, apapun itu silahkan, itu bentuk perhatian teman-teman kepada saya dan sangat pantas disyukuri. Seminggu lamanya saya tidak mau SMS dia. Dan nomornya sudah saya hapus, pernah sekali untuk bisa melupakannya, saya berniat untuk tidak masuk 1 minggu, untung saja Lae R, mendorong saya.
“Memang dang parpiso leppar be ho lae, Parpiso tuppul nama”
“Naso lae do mangarasahon”, nikku mai mangalusi.

Waktu demi waktu berjalan, setiap Hari Sabtu kami selalu melakukan diskusi di Kampus. Entah apalah itu, yang penting terkait masalah Hukum. Karena saya aktif di LBH. Memang setiap ada kasus masuk saya harus membuat Legal Opini atau mendampingi Klien jika masalahnya belum masuk ke ranah persidangan. Kebetulan pekerjaanku juga tidak harus stanbay di Kantor. Untuk belajar mencari ilmu dalam praktek tidak ada masalah, sekalipun capeknya sudah pasti. Di LBH uang memang bukan tujuanku, kadang nombok untuk biaya tranport dan makan. Tapi ilmu dari
senior-senior yang sudah menjadi Advokat, itu lebih penting bagiku. Biasanya kasus-kasus yang ditangani LBH pasti orang-orang yang kurang mampu dalam materi.

Entah sadar atau tidak, saya sudah berjanji tidak akan mau menelpon atau mengeSMS dia lagi, untuk bisa menghilangkan dia dalam pikiran dan hatiku. Tapi Sabtu pagi itu, Hp saya berbunyi, TITITITI-TITITI tenyata, sesudah ku buka dia yang sms, “Bang saya tidak bisa ikut hari ini, aku ada kerjaan. Maap ya bang, GBU”
Ku lihat nomor dan Tata Bahasanya, “Ehh tahe Itoanon muse”, narohakku.

Tekanan demi tekanan, Holong naterpendam, hacit tutu do pakilalaan.
Hingga suatu ketika, saya pura-pura mengeluh tidak punya uang sama teman-teman dan kebetulan dia ada disana dan dengar keluhanku.
“Agoh dang dohot be au ujian ra bah, dang hubayar dope uang kuliahku, dang adong hepeng, pinjamma jolo uang
munai asa boi ujian ari sogot”, ucapku, dan semua teman-teman geleng-geleng kepala, ku lihat dia melirik ku dan diam. Kekurangan uang cicilan ku saat itu memang tidak banyakl, hanya Rp. 800.000.

Esoknya dia tanya sama saya melalui SMS.
“Bang Nama lenkap dosen Pak…. siapa dan gelar lengkapnya apa, Mauliate”
Lalu aku balas, “Namanya lengkapnya …..ngapain sih, adek mau belajar Bahasa Batak, bukannya lebih baik belajar Bahasa Jawa pake Mauliate segala”, balasku menyindir.
Lalu dia jawab “Teman-teman saya semua Orang Batak kan, jadi biar saya ngak diboong-bongin melulu” katanya.
Lalu ku jawab, “Pamalo molohon do adek, dongan mu pe halak batak saotik do, ipe naburju-burju do sude, pinjam jo bah hepeng mi adek, dang marhepeng be au, lagi susah. Dang boi be au ujian minggu naro”, pintakku dalam SmS.
Padahal saya hanya bercanda, dan maksud ku, agar dia bisa membuat saya benci sekaligus saya lebih gampang
melupakannya.

Namun sayangnya jawaban yang saya terima malah di tanggapi serius. Balasan SMSnya langsung ingin membantu,
“Bang aku hanya punya 3 ratus, pengenya sich mau bantu semua, tapi rejekinya belum ada, gimana dong, 3 ratus aja gimana bang,”
Saya masih berpikir, untuk membalasanya, “Apa yang harus saya balas, saya kan hanya iseng-iseng, biar dia benci sama-saya”, pikirku.
Namun belum selesai saya membalas, dia sms lagi, “Kalau abang ijinin, aku tanya sama kakak Oca (Oca adalah teman akrabnya di kelas dan teman kami juga) mungkin dia bisa bantu. Juga dia kan teman Abang juga. Gimana Boleh ya..”

Membaca SMS yang tulus, hati ku jadi tambah jatuh cinta lagi kepadanya. Lalu ku jawab, “Boleh juga itu dek, kebetulan Abang lagi susah bangat sekarang, nanti satu bulan jangka waktunya akan ku pulangin”, alasanku.
Setelah itu, dia langsung menelepon saya, “Bang abang telpon Kak Oca, dia bisa bantu kurangnya dari saya, saya sudah ngomong”, ujarnya.
“Memang Oca ada duit”, tanyaku.
“Ada bang tadi sudah aku tanya”, jawabnya.
Lalu jadilah uang itu dia kumpulkan, lalu diberikan sama saya. Ujungna gabe tabba holong muse ma rohakku tu Itoanni.
“Ai burjuma ito non”, sai nina rohakku.

Akka dongakku, maloja ra hamu manjaha ceritaon ate, alai adong dopera sabung ni on, husuraton pe muse. Alai molo menurut hamu Lae/Ito boado posisikku. Hunggap ma Ibana songon Adek ke temu gede. Manang terus dope au ngotot naeng parhamlethon si Bunga Dahlia on..on..
Ohh..Tuhan, ai didia do sirokkap ni Toddikki….

Horas, Mauliate.

Comments
  1. Sinaga says:

    Ayo lae…. LANJUTKAN…. Masa talu sama jawa….????
    Jodoh ditangan Tuhan, Tapi usaha dooong!!!

  2. ita.. says:

    ayo ito lanjutkan..masih ada harapan kok.
    tulis lagi ya critanya,aku jadi penasaran nih.

  3. Alex says:

    gabe sukkun sukkun do au,
    happy ending ujung nion manang na daong..
    alai tahe paihut ihuton na ma udut ni cerita on

  4. Gultom says:

    Torushon appara !
    Hancit do molo dang puas na diroha manang sitta-sitta.
    Unang gabe sisolsolan dipudi.
    Molo dang di patolhas na diroha, ba ise umboto i,
    jala dang botoan aha reaksi ni si “Bunga”.
    Holon Tuhan i do naboi mandodo roha.
    Selamat Berjuang Appara (Ahu No. 16)

  5. hisar sitohang says:

    iman sekecil biji sawi dapat memindahkan gunung.torusson ma lae sosor torus dohot kebaikan sampai hatinya melekat tu lae.tamiangku mangurupi lae…”selamat berjuang”…..

  6. rajapatubosi says:

    Ta ula-ula i lae molo penting!! heheh..

  7. sibatuara says:

    sahera kisah dongeng ? alai molo nyata do on,on ma hudok tu lae,
    – Dalam laut dapat di ukur,dalam hati siapa tau,
    – Yang pertama bukan berarti pemenang,

  8. Samtri br marbun says:

    Ito, holong dang targabusan. Mlo holong rohani ito tu sibunga,paboa tu ibana.
    NB, Cinta ga selamanya memiliki, tp cinta bsa selamanya kta rasakan.

  9. lusi says:

    lanjutkan perjuangan to janga nyerah…
    key n angan lupa lanjutan critana y

  10. Bolo dang terus terang ito, marhua madiboto ibanai. Alai bolo adong do rohani ibana, pasti magatusi doi alai ito sada boru boru ikkon didokkon do asa adong sitioponna.

  11. edys says:

    lanjutkan lae,kudung hian lae….
    unang putus asa,kesabaran mungkin salah satu membantu,molo dapot ni lae,au pe dohot do sonang…..
    kutunggu sambungan crita….
    ale unang palsu sambunganna da….
    aslin ma attong songon dia selanjutna.anggap ma na curhat ale on!!!

  12. patar says:

    maju terus lae,,jangan kalah sama orang jawa,,songon adong lgu ni halak kita biar kambing di kampung sendiri,tpi banteng di perantauan,,jdi jangan pernah mundur,,

    unang lupa ateh lae lanjutan ni cerita i,,ok lae,

  13. maya says:

    Ito hasian , Ceritanya Bagus amat kayak cerita korea , kalau mau dilanjutin begini nih ” coba ajak dia bicara dari hati kehati biar tahulah apa isi hatinya “, trus lanjutan ceritanya gimana ????? Ini cerita beneran atau karangan si ito?????? Maju terus pantang mundur ya to GBU

  14. Romastiur Nainggolan says:

    maju terus ito, alasan dia pertama hanya krn galak dan keras. ito ga perlu ngubah gaya bahasa jd lepas logat batak, jangan ito, tp sikap dn tutur kata yg manis dn enak didengar dipertahankan. dia pasti bisa luluh dgn kegigihan ito ditambah dukungan dr teman2 ito dn kami2 ini. apapun cerita, sampai jurus pamungkas, majulah!! Gbu

  15. daniel says:

    wah saya agak telat balasnya nih lae..
    tapi kasih komentar dang pola boha kan???
    maju terus lae..jangan ragu untuk bilang holong ni rohami to borui..
    kita laki-laki biasa klo ditolak
    yang aneh itu klo ga pernah nembak..
    mungkin B**C*NG kali???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s